REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar terus mendorong perluasan inklusi keuangan bagi pelajar melalui berbagai program dan kolaborasi bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Salah satu program yang terus didorong adalah One Student One Account (OSOA) yang diimplementasikan melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Dimana, pada posisi triwulan II 2026, pihaknya telah memfasilitasi pembukaan sebanyak 2.187.810 rekening pelajar dengan total nilai tabungan mencapai Rp412,38 miliar.
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin mengatakan, program KEJAR difokuskan untuk membangun budaya menabung sejak dini sekaligus memastikan setiap pelajar memiliki akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan melalui kepemilikan rekening.
Baca Juga : Hengkang atau Bertahan, Masa Depan Appi di Golkar Kini di Persimpangan Jalan
“Program ini difokuskan pada pelajar di tingkat SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi,” terangnya, dalam keterangan resminya, kemarin.
Menurutnya, pembiasaan menabung sejak usia pelajar diharapkan dapat membangun kesadaran dan perilaku keuangan yang positif. Selain itu, kepemilikan rekening juga menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan layanan keuangan formal kepada generasi muda.
Lanjut Muchlasin, program inklusi keuangan ini pun didorong melalui pelibatan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang menghadirkan berbagai program dengan tujuan memperluas akses, sekaligus mendorong masyarakat untuk menggunakan dan memanfaatkan produk serta layanan jasa keuangan.
Baca Juga : Program Stay & Play ala Aston Makassar, Tawarkan Paket Menginap Bonus Padel dan Kuliner
“Kolaborasi antara OJK, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan,” katanya.
Melalui program tersebut, OJK Sulselbar bersama TPAKD dan pemerintah daerah terus memperkuat sinergi agar akses terhadap produk jasa keuangan semakin luas dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
“Peningkatan akses dan pemanfaatan layanan keuangan tersebut diharapkan turut memperkuat inklusi keuangan di daerah, sekaligus mendukung terciptanya masyarakat yang semakin sadar dan cakap dalam mengelola keuangan,” tegas Muchlasin.
