Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW: Awan Aneh Bergelayut Rendah

  • Bagikan

Catatan M. Dahlan Abubakar

REPUBLIKNEWS.CO.ID, – Menjelang akhir hidupnya, kekayaan Abd Al Muthalib menurun. Ketika meninggal, dia hanya mewariskan kekayaan yang tidak seberapa kepada anak-anaknya. Abd. Thalib, saudaranya, tetap miskin dan kemenakannya, Muhammad, perlu bekerja semampunya mengimbangi kebutuhan keluarga. Muhammad yang ditinggal pergi oleh ayahnya Abdullah semasih di dalam kandungan, banyak bekerja sebagai penggembala domba dan kambing yang dilakukannya di luar Kota Mekkah.

Ketika berusia 9 tahun – ada juga yang menyebut 12 tahun – keluarga pergi bersama kafilah ke Negeri Syiria. Di Bosra, di dekat sebuah tempat persinggahan para saudagar Mekkah, tegak sebuah biara yang dihuni oleh seorang pendeta Kristen dari masa ke masa. Ketika sang pendeta meninggal, yang lainnya menggantikannya. Mereka mewarisi yang ada di biara. Termasuk manuskrip-manuskrip (naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi) kuno. Di antaranya ada satu manuskrip yang berisi ramalan tentang datangnya seorang nabi pada mashyarakat Arab di kemudian hari.

Bahira, pendeta yang saat itu hidup di biara tersebut, benar-benar menguasai kandungan kitab manuskrip tersebut. Ramalannya itu membuatnya sangat tertarik karena – seperti Waraqah – dia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya. Siapa itu Waraqah?

Ketika Rasulullah menerima wahyu di awal-awal kenabiannya, beliau ragu dengan apa yang terjadi. Sayyidah Khadijah – istrinya — mengajaknya menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya. Waraqah bin Naufal adalah orang yang menguasai kitab-kitab suci terdahulu, khususnya Yahudi dan Kristen. Waraqah termasuk orang langka. Di saat mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia memercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala. Ia mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah).

Bahira sudah sering melihat kafilah Mekkah lalu lalang di dekat biaranya. Sebab mereka rata-rata mampir. Namun saat itu perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Segumpal awan bergelayut rendah bergerak pelan di atas kepala mereka (kafilah Arab itu), sehingga awan tersebut selalu berada di antara matahari dan satu atau dua musafir kafilah tersebut.

Dengan sangat tertarik, pendeta Bahira melihat dari dekat. Tiba-tiba perhatiannya berubah menjadi kekaguman, karena begitu mereka berhenti, awan itu pun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal di atas pohon yang di bawahnya mereka berteduh. Pohon itu merundukkan dahan-dahannya di atas mereka. Mereka berteduh di bawah dua naungan.

Pendeta Bahira tahu pertanda itu, walaupun tidak menonjol. Mempunyai signifikansi yang tinggi. Hanya orang yang punya kepekaan spiritual tinggi yang bisa menjelaskannya. Bahira segera berpikir tentang nabi yang diharapkan itu sebagaimana ramalan yang tertulis dalam manuskrip kuno tersebut.

“Benarlah, akhirnya dia datang juga. Berada di antara musafir-musafir itu,” Bahira membatin.

“Wahai kaum Quraisy. Aku telah menyediakan makanan untukmu. Aku berharap semua kalian datang kepadaku. Tua dan muda. Budak atau pun orang merdeka,” seru Pendeta Bahira yang baik hati itu kemudian menyuguhkan semua yang dimilikinya karena biara tersebut baru saja mendapat berbagai persediaan makanan.

Para musafir itu pun datang. Meskipun Bahira sudah mengundang semua datang ke biaranya, namun para musafir itu meninggalkan seseorang di belakang untuk menjaga unta dan barang-barang mereka. Bahira menatap wajah mereka satu demi satu. Tak seorang pun yang tampak seperti yang dituliskan dalam manuskrip kuno itu. Tidak juga ada di antara mereka yang pantas bagi kebesaran dan mukjizat itu.

“Wahai kaum Quraisy. Jangan sampai ada seorang pun dari kalian yang tertinggal,” kata Bahira yang menurut perasaannya mereka belum berkumpul semua di depannya.

“Tidak ada seorang pun yang tertinggal, kecuali seorang laki-laki yang masih kanak-kanak,” jawab para musafir.

“Jangan perlakukan dia seperti itu. Ajaklah dia ke sini. Biarlah dia hadir bersama kita dalam perjamuan makan ini,” titah Bahira.

Abu Thalib dan lainnya saling menyalahkan atas kecerobohan mereka. Mungkin juga mereka tak ingin ada apa-apa dengan Muhammad jika dia bertemu dengan pendeta itu.

“Kita benar-benar terkutuk. Anak Abdullah kita tinggalkan di belakang dan tidak ikut makan bersama kita,” kata salah seorang di antara musafir itu yang kemudian segera menemui anak itu, mengajak, dan membawanya duduk bersama yang lain.

Pandangan sekilas ke wajah pemuda itu sudah cukup meyakinkan Pendeta Bahira menjelaskan adanya mukjizat itu. Selama perjamuan itu, dia menatap Muhammad dengan saksama. Dia menemukan beberapa bagian dari wajah dan badannya yang cocok dengan yang dilukiskan dalam manuskrip atau kitabnya.
Usai mereka bersantap, Bahira mendekati tamu termudanya itu dan menanyakan tentang pola hidupnya, tidurnya, dan urusannya sehari-hari. Muhammad menjawab semua yang ditanyakan dengan sigap karena pendeta itu patut dihormati. Pertanyaan-pertanyaannya pun ditujukan dengan sopan dan baik. Muhammad pun tidak ragu-ragu melepaskan jubahnya ketika pendeta itu meminta agar dapat melihat punggungnya. Bahira telah merasa yakin, namun kemudian makin yakin, karena di tempat itu, di antara kedua punggung Muhammad, ada sebuah tanda yang dilihatnya. Sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti yang digambarkan dalam kitabnya.

“Apa hubunganmu dengan anak ini,” Bahira bertanya kepada Abu Talib.
“Dia anakku,” jawab Abu Thalib.
“Dia bukan anakmu. Tidak mungkin ayahnya masih hidup,” sergah sang Pendeta. “Dia anak saudaraku,” kata Abu Thalib mengoreksi kalimatnya yang terdahulu.
“Lalu siapa ayahnya?,” Bahira terus mencecar.
“Dia telah meninggal, ketika pemuda itu masih dalam kandungan ibunya,” terdengar yang lain menjawab.

“Itu yang benar. Bawalah anak saudaramu ini kembali ke negerinya. Lindungi dia dari kaum Yahudi. Demi Tuhan, kalau mereka melihatnya dan tahu seperti aku mengenalnya, mereka akan berbuat jahat terhadapnya! Anak saudaramu ini kelak akan menjadi seorang besar,” kata Pendeta Bahira seperti termaktub pada halaman 43 buku berjudul “MUHAMMAD, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik” yang ditulis oleh Martin Lings yang memiliki nama Islam Abu Bakr Siraj Al Din.

Buku Martin Lings yang seorang filsuf Muslim tersebut, judul aslinya “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources”. Buku biografi Nabi Muhammad karangan Martin Lings ini dianggap sebagai buku biografi Nabi Muhammad paling epik sepanjang sejarah.

Cendekiawan kelahiran Burnage, Lachasire, Inggris, pada 24 Januari 1909 itu, masa kecilnya justru dihabiskan di Amerika. Pendidikan ia tempuh di Clifton College, Bristol, berlanjut di Magdalen College,Oxford dan memperoleh gelar BA pada tahun 1932. Martin sempat mengajar studi Anglo-Saxon di Lithuania pada tahun 1932. Tercatat pula pernah mengajar di Universitas Kaunas, Inggris Tengah. Bahkan saat kuliah di Magdalen, Lings berteman baik dengan penulis serta sastrawan terkenal Inggris C.S. Lewis.

Pada 1948 ia menjadi saksi akan perjalanan pertama pergi haji. Itu terjadi setelah 10 tahun dia dan istri masuk Islam di Mesir. Sejak itulah, Lings mulai mempelajari bahasa Arab, agama Islam, serta ilmu sufisme. Lings merasa, Islam bukan hanya sebuah agama, melainkan juga panduan kehidupan manusia.
Semenjak itu, Lings memutuskan masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Abu Bakr Siraj Ad-Din. Bagi Lings, Mesir sudah menjadi rumah keduanya. Selama lebih dari satu dekade, Lings tinggal bersama istrinya Lesley Smalley di Mesir. Namun, sebelum revolusi Abdul Nasser memuncak, berbagai protes anti-Inggris sempat merajalela di Mesir. Bahkan tiga kolega Lings saat itu harus tewas karena protes berdarah tersebut. Akibatnya, sekitar tahun 1952, Lings dan istrinya terpaksa meninggalkan Mesir dan kembali ke kampung halamannya di Inggris.

Martin Lings meninggal: 12 Mei 2005 di Westerham, Britania Raya (Inggris) dan termasuk salah satu penganut Tarekat Syadziliyah. Bukunya yang terbit dalam bahasa Indonesia setebal 551 halaman, sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

  • Bagikan