0%
logo header
Jumat, 21 Juni 2024 09:13

Satpol-PP Merauke Tutup Kedai Remang-Remang di Kawasan Bandara Mopah

M. Imran Syam
Editor : M. Imran Syam
Operasi Penutupan dan Penertiban Kedai Remang-Remang di kawasan Bandara Mopah Merauke. (Foto: Hendrik Resi / republiknews.co.id)
Operasi Penutupan dan Penertiban Kedai Remang-Remang di kawasan Bandara Mopah Merauke. (Foto: Hendrik Resi / republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MERAUKE – Usaha hiburan malam di sejumlah kedai remang-remang yang berjejer di kawasan Bandara Mopah Merauke akhirnya digerebek dan ditutup oleh Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Merauke, Kamis malam (20/06/2024).

Penutupan atau penertiban sejumlah kedai remang-remang tersebut dimulai sekitar pukul 22.30 hingga pukul 00.00 WIT itu bekerja sama dengan pihak Kelurahan Muli, Babinsa TNI AD, Paskas TNI AU dan petugas Bandara Mopah.

Disaksikan media ini, upaya penutupan atau penertiban berupa pemberitahuan dan penyampaian langsung kepada setiap pemilik kedai untuk menghentikan aktivitas alias menutup usahanya karena dinilai tidak mengantongi izin dan meresahkan masyarakat Merauke.

Baca Juga : Rumah Perjuangan Paslon Bupati Hendrik-Riduwan di Distrik Kurik Merauke Diresmikan

“Mulai besok dan seterusnya kalian tidak boleh berjualan di sini lagi. Semua kontainer kalian ini harus kalian angkat. Kalau tidak kami akan melakukan upaya dan tindakan paksa,” ujar salah seorang petugas dengan nada tegas.

Selain itu, penutupan usaha kedai remang-remang, petugas Satpol PP juga melarang para pedagang kaki lima dan penjual cilok di depan Bandara Mopah untuk berjualan di depan pintu masuk dengan memasang spanduk larangan.

“Perhatian! Dilarang Keras Berjualan Di Depan Pintu Masuk Bandara Mopah Merauke,” demikian bunyi tulisan spanduk itu.

Baca Juga : Plat Kendaraan Bermotor di Papua Selatan Resmi Berganti dari PA ke PS

Petugas Satpol memberi teguran keras dan peringatan kepada para pedagang kaki lima atau penjualan cilok agar berjualan tidak boleh sampai larut malam.

“Mulai besok, batas waktu kalian berjualan di sini hanya sampai pukul 23.00 WIT. Tidak boleh sampai larut malam ya,” ucap seorang petugas dengan nada tegas.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Merauke, Fransiskus Kamijay melalui Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum, Jeremias Masriat mengatakan, keberadaan kedai-kedai di kawasan Bandara Mopah dinilai melanggar aturan dan meresahkan masyarakat karena beroperasi di luar batas.

Baca Juga : Sekda Papua Selatan Tegaskan Pejabat Pemprov Wajib Mundur Jika Maju Calon Kepala Daerah

“Kedai-kedai itu dibuka semacam hiburan malam. Mereka memutar lagu sambil karaoke (menyanyi) sampai tidak ada batas waktu. Ini diperintahkan oleh Kasat kami untuk melakukan penertiban,” kata Jeremias Masriat saat apel pasukan, Kamis malam.

“Masyarakat di kawasan bandara sudah melapor dan sampaikan bahwa musiknya bisa sampai jam 01.00-03.00 WIT. Ini yang kami jalan ini untuk menegur mereka. Kami bersama Pak Lurah Muli yang punya wilayah, akan memasang baliho bahwa di seputar bandara tak boleh ada jualan dan putar lagu sampai larut malam,” sambungnya.

Operasi yang dilakukan, kata Jeremias, menjadi bagian dari penegakan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Merauke tentang Ketertiban Umum. Kawasan bandara merupakan jalur hijau, sehingga tidak boleh ada aktivitas berjualan.

Baca Juga : AKBP Leonardo Yoga Kapolres Baru Merauke, AKBP I Ketut Suarnaya Berpamitan ke Polda Bali

“Di situ kan kawasan hijau, tidak boleh ada jualan di depan jalan kera itu adalah jalan utama. Itu akan kami tindaklanjuti dan itu harus ditutup semuanya. Karena kawasan itu kan kawasan hijau, apalagi di depan Patung Hati Kudus Yesus, kan tidak boleh,” tegasnya.

Di tempat berbeda, warga Jalan Martadinata Merauke, Antonius mengapresiasi langkah tegas yang diambil Satpol PP Kabupaten Merauke yang menutup sejumlah warung remang-remang di areal Bandara Mopah.

Keberadaan kedai atau warung remang-remang yang membuka usaha karaoke di pinggir jalan di areal Bandara Mopah, menurut Anton, dinilai meresahkan dan sangat mengganggu ketenangan dan ketenteraman warga beristirahat di malam hari.

Baca Juga : AKBP Leonardo Yoga Kapolres Baru Merauke, AKBP I Ketut Suarnaya Berpamitan ke Polda Bali

“Kafe-kafe liar ini sangat mengganggu. Kalau malam suara musik terdengar sampai di kamar. Padahal jarak dari rumah kami itu sekitar 300 meter ke tempat itu, tapi masih kedengaran. Volume bunyi musik kadang tidak tahu diri,” kata Antonius di RKD Kafe Merauke.

“Kadang bunyi musik keras sampai jam 02.00 atau jam 03.00 WIT. Bahkan kadang sampai jam 05.00 pagi. Terlalu berisik, dan tempat-tempat itu sudah lama beroperasi,” lanjutnya.

Antonius menyebutkan, sebelum usaha kedai remang-remang tersebut pernah dibubarkan oleh Polres Merauke. Namun, tak berselang lama, warung remang-remang itu muncul kembali dengan jumlah yang bertambah.

Baca Juga : AKBP Leonardo Yoga Kapolres Baru Merauke, AKBP I Ketut Suarnaya Berpamitan ke Polda Bali

“Pernah dibubarkan oleh Pak Kapolres Merauke, sempat berhenti kemudian beberapa hari ada lagi. Sebenarnya, lebih bagus dibubarkan, karena mengganggu dan bising,” ungkap Antonius.

Anton menilai keberadaan kedai remang-remang itu kerap kali menjadi ajang pesta minuman keras (miras), sarang maksiat, kekacauan dan tempat transaksi prostitusi terselubung. Padahal, keberadaannya  persis di depan tempat suci, Patung Hati Kudus Yesus sebagai tempat suci umat Nasrani.

“Kalau sudah tengah malam di situ bukan lagi minum kopi, tapi alkohol. Sudah begitu ada perempuan cantik, sexy-sexy juga ikut temani minum. Ujung-ujung Open BO,” lugas Antonius.

Baca Juga : AKBP Leonardo Yoga Kapolres Baru Merauke, AKBP I Ketut Suarnaya Berpamitan ke Polda Bali

“Belum lagi di situ tempat mabuk-mabuk itu. Nanti sebentar mereka bikin masalah, kita tidak tahu. Baku tikam, baku bunuh. Jadi bisa timbul banyak kasus di situ. Satpol segera bubarkan itu,” pungkasnya. (*)

Penulis : Hendrik Resi
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646