REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Mengawali tahun 2026, kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan menunjukkan pada kondisi yang stabil dan tumbuh positif. Hal ini salah satunya terlihat pada indikator aset perbankannya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar mencatatkan pertumbuhan aset perbankan mencapai 5,90 persen di periode Januari secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara, dari segi capaian aset mencapai Rp212,19 triliun atau Rp200,37 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan aset perbankan yang solid dan baik ini menandakan kekuatan fungsi intermediasi sektor keuangan dalam menghimpun dana dan menyalurkannya ke masyarakat. Termasuk dalam meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem perbankan,” terang Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin, dalam keterangannya, kemarin.
Baca Juga : Kado Hardiknas untuk Warga Makassar, Munafri Tambah Insentif Guru hingga Fasilitas untuk Siswa
Ia menjelaskan, dari total capaian aset perbankan tersebut kontribusi aset pada bank umum sebesar Rp208,17 triliun atau dengan pertumbuhan 5,87 persen secara tahunan. Sementara, pada kontribusi aset pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mencapai Rp4,01 triliun.
“Untuk aset BPR di Sulawesi Selatan itu tumbuh cukup positif jika dilihat dari tahun ke tahun atau tumbuh 7,19 persen secara tahunan. Ini menandakan bahwa kinerja perbankan syariah sudah sangat baik saat ini, tinggal terus didorong melalui penguatan literasi dan inklusi keuangannya,” tegasnya.
Sebelumnya, OJK Sulselbar menilai bahwa kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi stabil dan menunjukkan pertumbuhan solid.
Baca Juga : Lewat SMP dan SMK3, PLN UIP Sulawesi Perkuat Standar Keamanan dan Keselamatan Pekerja
Stabilitas tersebut tercermin dari berbagai indikator utama yang menunjukkan pertumbuhan positif. Pertama, di sektor perbankan, mengawali 2026, kinerja perbankan menunjukkan kinerja yang stabil tergambar pada indikator total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit.
“Pada capaian tiga indikator di sektor perbankan ini tercatat tumbuh lebih tinggi pada posisi Januari 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2025,” terang Muchlasin, di sela-sela Media Update Kinerja Sektor Jasa Keuangan Sulawesi Selatan, di Kantor OJK Sulselbar, kemarin.
Secara capaian, total aset perbankan tumbuh sebesar 5,90 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dengan nominal mencapai Rp212,19 triliun. Kemudian, DPK tumbuh 7,83 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp145,27 triliun. Adapun penyaluran kredit di Sulawesi Selatan tumbuh sebesar 5,56 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp173,03 triliun.
Baca Juga : Konsistensi Pegawai PLN UIP Sulawesi Terapkan Budaya Kerja Rendah Emisi
Kedua, di sektor pasar modal juga tercatat mengalami penguatan kinerja seiring dengan meningkatnya minat serta keterlibatan masyarakat dalam kegiatan investasi. Capaian ini ini terlihat dari pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat.
“Saat ini jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) tumbuh sebesar 31,23 persen (yoy) mencapai 525.596 SID pada posisi Desember 2025,” terang Muchlasin.
Ketiga, di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di wilayah Sulawesi Selatan juga menunjukkan kinerja pertumbuhan yang sangat baik. Penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tumbuh 0,14 persen, modal ventura tumbuh 7,97 persen, dan Fintech Peer-to-Peer (P2P) lending tumbuh sebesar 34,56 persen.
Baca Juga : OJK: Keamanan Siber di Industri Keuangan Digital Perlu Diperkuat
Selain itu, total aset dana pensiun tumbuh 8,28 persen, sedangkan total penjaminan lembaga penjaminan tumbuh 36,64 persen.
“Secara keseluruhan, dinamika kinerja IKNB tersebut menunjukkan bahwa sektor keuangan di Sulawesi Selatan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif dan adaptif,” akunya.
