REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASAR — Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan memberikan dukungan dalam pengembangan destinasi wisata ramah muslim.
Hal ini pun dilakukan dalam pertemuan Forum Diskusi Kajian Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026, di Ruang Rapat Sipakainge, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan.
Pertemuan ini dihadiri Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Firman Hidayat, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Mirna, Ekonom Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Annisa Elma Nabila, Tim Kajian IMTI Pusat dari Enhai Halal Tourism Center (EHTC) Politeknik Pariwisata NHI Bandung dan Crescent Rating, serta berbagai pemangku kepentingan terkait.
Baca Juga : Pasar Pa’baeng-baeng Terbakar, Munafri Pastikan Perbaikan dan Akses Modal Pedagang
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Firman Hidayat mengatakan bahwa pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pariwisata, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di daerah.
Apalagi dalam pelaksanaan IMTI ini, Sulawesi Selatan menjadi salah satu dari 14 provinsi yang mengikuti asesmen IMTI 2026 dan telah masuk dalam 15 besar tahap penentuan rating dan ranking Destinasi Wisata Halal Unggulan Indonesia Tahun 2026.
“Pelaksanaan IMTI menjadi momentum penting bagi Sulawesi Selatan untuk memperoleh pemetaan yang lebih komprehensif mengenai kesiapan dan perkembangan ekosistem Pariwisata Ramah Muslim, sekaligus mengidentifikasi ruang penguatan ke depan,” ujarnya, dalam pertemuan, kemarin.
Baca Juga : Gerindra Sulsel Dorong Legislator yang Ingin Naik Kelas Bersiap Lebih Dini
Lebih lanjut, pemetaan ini menjadi pijakan untuk merumuskan tiga area penguatan utama dalam pengembangan ekosistem Pariwisata Ramah Muslim di Sulawesi Selatan.
Firman menjelaskan, pertama, destinasi wisata ramah muslim dapat memberikan pengalaman yang baik kepada wisatawan. Mulai dari kemudahan konektivitas, kebersihan, keamanan, akses informasi hingga kemudahan bertransaksi.
Kedua, destinasi wisata muslim memiliki standar layanan global dan menuju destinasi muslim yang universal.
Baca Juga : Bapemperda DPRD Sulsel Dalami Ranperda Penyertaan Modal PT SAE Terkait PI Blok Sengkang
“Destinasi wisata dapat memenuhi kebutuhan wisatawan muslim, namun tetap nyaman dan menarik bagi wisatawan lain dari berbagai negara, budaya serta latar belakang,” jelasnya.
Ketiga, destinasi wisata muslim memiliki linkage dengan potensi unggulan lokal seperti umkm dan kuliner.
Ia menegaskan, penguatan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, UMKM, komunitas, asosiasi, hingga lembaga terkait.
Baca Juga : Sambangi Luwu Timur, Bapemperda DPRD Sulsel Perjuangkan PAD dari Sektor Pertambangan
“Kolaborasi diharapkan dapat membangun ekosistem Pariwisata Ramah Muslim yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat halal value chain di Sulawesi Selatan,” tegasnya.
Ia berharap, hasil asesmen IMTI 2026 tidak hanya menjadi dasar penilaian rating dan ranking, tetapi juga dapat menjadi referensi bersama dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan Pariwisata Ramah Muslim di Sulawesi Selatan.
Selain itu, melalui sinergi tersebut, pelaksanaan IMTI 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Sulawesi Selatan dalam peta destinasi ramah muslim nasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata dan rantai nilai halal.
