0%
logo header
Senin, 06 Mei 2024 13:14

Catatan Mudik 2024: (9)Kloter Terakhir yang Sepi

M. Imran Syam
Editor : M. Imran Syam
Jalan Desa Sepi, tak ada seorang pun yang beraktivitas. (Foto: Dahlan Abubakar / Republiknews.co.id)
Jalan Desa Sepi, tak ada seorang pun yang beraktivitas. (Foto: Dahlan Abubakar / Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, BIMA — Rombongan saya dan keluarga dari Makassar, menjadi ‘kelompok terbang’ (kloter) terakhir yang meninggalkan Kanca, kampung kelahiran. Adik Nurhayati bersama anaknya Icha dan dua cucunya Nina dan Alsa, menumpang KM Binaiya yang langsung menuju Makassar pada tanggal 14 April 2024 malam, kembali ke Palu via Makassar. Nurhayati memang lebih dulu tiba di Bima, setelah bergabung  dengan ayah dan ibu yang datang berobat di Mataram. Dia kemudian bersama ayah dan ibu ke Bima memanfaatkan bus.
Nurhayati merupakan rombongan pertama arus balik pemudik kami yang meninggalkan Pelabuhan Bima.

Dia merupakan salah seorang dari 325 pemudik yang memperoleh tiket gratis Program Mudik Gratis Kementerian Perhubungan yang difasilitasi PT Pelni. Para pemudik itu dilepas Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas (KSOP) Kelas VI Bima M.Junaidi, Pejabat Wali Kota Bima M.Rum, Kapolres Bima Kota AKBP Yudha Pranata  Kepala Pelni Bima dan Manager PT Pelindo, Mereka diberangkatkan menggunakan kapal KM Binaiya dari Terminal Penumpang Pelabuhan Bima NTB menuju Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad (14/4/2024) malam. 

Ayah dan Ibu ikut mengantar Nurhayati ke Pelabuhan Bima satu mobil dengan saya dan istri. Ketika hendak menaiki KM Binaiya, Nurhayati datang menyalami Ibu (Umi) sambil menangis tersedu-sedu. Ibu sepertinya biasa saja. “Jangan menangis,” katanya seperti tegar sekali melepas anak ke-5-nya ini, putri pertama yang dilahirkannya tahun 1963.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (5-Habis)Wawancara Sambil Bermain Golf dengan Wapres

Ketika Nurhayati meninggalkan mobil dan siap menaiki kapal, baru Ibu bertanya.
“Siapa yang datang dan menangis tadi?,” tanya Umi.
“Anaknya Umi. Nurhayati yang di Palu,” jawab istri saya yang duduk mendampinginya di jejeran kursi kedua mobil yang dikemudikan Syamsuddin, ipar saya. Barulah Umi menangis setelah mengetahui kalau yang datang pamit dan menangis tadi adalah anaknya. Begitulah Umi lebih kerap lupa mengenali anak-anaknya. 

Adik H.Sofwan, S.H., M.Hum, pun meninggalkan Bima 17 April 2024 malam menggunakan bus menuju Mataram. Sepupu saya Erny Johar dan beberapa anaknya menyusul keesokan harinya, 18 April menuju Mataram, juga menggunakan bus, untuk beberapa hari berekreasi di kota itu sebelum balik ke Jakarta.  Erny dkk melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat dari Mataram. Rombongan berikutnya Dr.H.M.Bukhari Muslim,SQ, M.H, suami Erny yang juga terbang dari Bima dan mampir di Mataram, kemudian ke Jakarta.

Sepeninggal mereka, kami dari Makassar merasakan begitu sepi. Saya hanya mengetik beberapa catatan mudik ini di teras depan rumah hingga azan salat fardu zuhur tiba. Pada malam hari, saya dan istri bersama Hery, duduk bercerita dengan ayah dan ibu serta adik-adik.

Suasana ngobrol ini sering terasa lucu karena Umi sudah mengalami demensia, yakni gangguan kegiatan pikiran karena kerusakan atau penyakit pada otak. Akibatnya, Umi tidak lagi mengenali anak-anaknya, kecuali hanya satu orang yang selalu disebutnya Kaharuddin, anak ke-4 yang dilahirkan pada tahun 1961. Anaknya ini kerap diingatnya karena hampir setiap saat selalu berinteraksi. Yang lucu, ketika ditanyai sosok seorang anaknya yang perempuan, Umi tetap menyebutnya Kaharuddin.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (4)Satu Malam, Bobol 4 Kantor BRI Unit

Saya sebagai anak sulung, sebenarnya cukup populer beberapa waktu yang lalu di mata Umi. Namun ketika bertatapan muka, Umi kembali lupa dan tidak mengenalinya lagi. Dalam hal reaksi dan memberi respon terhadap ucapan seseorang, Umi masih cukup normal menjawabnya.

“Bagaimana, Umi mau ikut ke Kota Bima besok,” begitu antara lain anak-anaknya bertanya bila ada rencana mengantar anak-anaknya yang akan kembali ke Makassar.

“Ya, pergilah. Kan saya hanya duduk di mobil. Tidak berjalan kaki,” jawabnya dalam bahasa Bima. Umi juga sudah lupa bahasa Indonesia yang biasa digunakan ketika berbicara dengan cucu-cucunya saat ke Makassar beberapa tahun silam.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (3)Dari Staf ke Posisi Puncak

Jawaban Umi terkadang sangat filosofis dan logik juga. Misalnya ketika adik ipar saya, Hj. Naimah Aminy bertanya. “Siapa saya, Umi,” tanya putri mendiang KH. M.Said Amin ini. “Ya, dirimu sendiri,” jawab Umi membuat kami yang mendengarnya terkekeh.

Pernah suatu malam, saat duduk bersama pada malam hari, tiba-tiba Umi merasa kurang enak perasaannya. “Abu…Abu.. di mana. Abu di mana…??,” kata Umi memanggil suaminya yang kerap disapa ‘Abu’ (panggilan pria yang sudah berhaji di Bima) dengan suara yang sedikit terdengar agak menggelisahkan memanggil pasangan hidupnya yang sebenarnya ada di depannya.

Istri saya, menantunya, bersama anak-anaknya segera bereaksi dengan memberi Umi, makan. Ternyata Umi belum makan malam. Istri saya pun menyuapinya, kemudian kondisinya mulai normal setelah ikut diberikan obat gosok. Saya sempat juga khawatir karena melihat raut wajah Umi agak pucat. Takut terjadi apa-apa.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (2)Tiga ‘Jimat’ yang Buat ‘Survive’

Tanggal 19 April 2024, saya terakhir di Kanca. Pada malam hari, adik H.Muslim meluncur dari Kota Bima karena akan menjemput saya sekeluarga menuju Pelabuhan Bima keesokan hari. Sebenarnya ada kendaraan menantu Syamsuddin, tetapi Hery (Haryadi) melarangnya ikut mengantar karena dengan satu mobil Avanza milik Muslim saja bisa mengangkut kloter terakhir pemudik. Lagian, Syamsuddin perlu istirahat karena dia hampir setiap hari ke Kota Bima dengan berbagai macam urusan. Jarak 110 km pergi-pulang harus dijalaninya.

Malam terakhir kami bermain joker sampai pukul 04.00 dinihari. Agaknya, adik Muslim sengaja mengubah jadwal menjemput kami dari pagi hari 20 April ke tanggal 19 April malam hanya untuk mengisi malam dengan agenda bermain joker. Hendak membalas dendam atas kekalahan dan sanksi menggantung gembok kunci dan botol air mineral berisi air pada malam-malam sebelumnya.

Desa Kanca begitu sepi keesokan hari, Sabtu (20/4/2024). Tidak saja oleh warganya yang tinggal di luar yang mudik telah kembali ke tempat domisilinya masing-masing, tetapi oleh suasana warga desa itu sendiri. Jalan desa yang sudah tersapu aspal tampak tanpa orang yang berjalan sama sekali. Warga desa yang sudah lansia lebih banyak di rumah, sementara mereka yang masih kuat bekerja kebanyakan berada di ladang mengurusi tanaman jagung mereka yang siap dipanen. Saya nanti baru bertemu banyak warga jika pergi salat berjamaah saat zuhur,  magrib, dan subuh (Asar dan Isa saya salat safar, musafir) ke Masjid At Taqwa Desa Kanca yang hanya 70m dari rumah. Pembangunan masjid ini pernah memperoleh bantuan semen dari PT Semen Tonasa saat dipimpin H.,M.Sattar Taba (sekarang Prof.Dr.,S.E.,MIP). Itu pun rata-para pria lansia. 

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (2)Tiga ‘Jimat’ yang Buat ‘Survive’

Setelah salat zuhur, mobil Avanza merah milik adik H.Muslim yang dikemudikan Hery meninggalkan desa kelahiran, Kanca. Sebelumnya di rumah, saya menyalami Abu dan Umi. “Saya pulang dulu,” kata saya kepada Umi.
“Pulang ke mana?,” Umi balik bertanya.
“Ke Makassar, nanti Oktober akan datang lagi,” kata saya menghibur Umi yang seolah tidak ingin berpisah dengan anaknya.
“Iya,” jawabnya pendek kemudian saya memeluknya.

Biasanya Umi kalau anak-anaknya datang kerap menangis, tetapi kali ini sudah berubah. Mungkin karena sering lupa siapa yang diajak berbicara, sehingga lupa menangis.   

Mobil meluncur menuju Bima, melintasi jalan poros Parado hingga Dam Pelaparado yang rusak parah. Hery selama 14 hari di Bima, bersumpah hanya akan kembali melintasi jalan itu pada saat pulang ke Makassar 20 April itu. Dia dan anaknya Reza, lebih memilih tinggal bedua di rumah di Kanca saat seluruh keluarga pergi berekreasi di Sori Nehe, 15 April 2024. Dia mengurusi sendiri urusan rumah tangga yang ditinggalkan pemiliknya. (M. Dahlan Abubakar, Bersambung*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646