0%
logo header
Sabtu, 13 September 2025 01:19

Festival Media 2025 di Makassar Soroti Krisis Demokrasi dan Ancaman Jurnalis

Chaerani
Editor : Chaerani
Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, di sela-sela membuka Festival Media 2025, di Pelataran Benteng Ujung Pandang (Roterdam), Kota Makassar, Jumat, (12/09/2025). (Dok. Fesmed 2025)
Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, di sela-sela membuka Festival Media 2025, di Pelataran Benteng Ujung Pandang (Roterdam), Kota Makassar, Jumat, (12/09/2025). (Dok. Fesmed 2025)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Festival Media (Fesmed) 2025 yang digagas Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Makassar menyoroti krisis demokrasi dan ancaman bagi jurnalis.

Kegiatan ini resmi dibuka oleh Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida. Perhelatan tahunan kali ini dipusatkan di Kota Makassar dengan menghadirkan ratusan jurnalis, akademisi, aktivis, hingga komunitas sipil dari berbagai daerah.

Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, menegaskan bahwa pemilihan Kota Makassar sebagai tuan rumah bukan keputusan singkat, melainkan melalui banyak pertimbangan. Ia menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat masyarakat dan jurnalis lokal.

Baca Juga : Hadirkan Kendaraan dan Program Terbaik, Suzuki Target 200 SPK di GIIAS 2026 Makassar

“Festival media ini adalah ajang untuk seluruh jurnalis di Indonesia. Temanya kali ini cukup serius, karena demokrasi kita sedang sakit. Ini bukan acara seremonial, tapi momentum untuk melawan penyakit berbahaya dalam demokrasi, salah satunya pembungkaman pers,” ujar Nany, dalam pembukaan, di Pelataran Benteng Ujung Pandang (Roterdam), Kota Makassar, Jumat, (12/09/2025).

Ia mengingatkan bahwa kebebasan pers merupakan napas demokrasi. Menurutnya, tanpa jurnalis yang bisa bekerja merdeka, publik hanya akan disuguhi kebohongan yang dipoles seolah kebenaran.

“Jurnalis terus dibungkam. Ada intimidasi, kriminalisasi, kamera dirampas, ponsel disita, bahkan dipukul saat bertugas. Ada pula sensor halus melalui tekanan iklan dan kepentingan politik, serta undang-undang yang menakut-nakuti media. Apakah ini demokrasi, atau jalan kembali ke militer dengan wajah baru?,” tegasnya.

Baca Juga : Sempurnakan Substansi Ranperda, Pansus Pemajuan Kebudayaan DPRD Sulsel Sambangi Kemendagri

Selain kekerasan, Nany juga menyoroti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri media. Ia menyebut ada sekitar 1.300 jurnalis yang kehilangan pekerjaan, yang menurutnya bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga hilangnya mata dan telinga publik.

“Ketika satu jurnalis di-PHK, satu mata rakyat ditutup. Ketika satu media dimatikan, satu telinga rakyat ditulikan. Dan ketika pers mati, semua rakyat menjadi buta,” ucapnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa jurnalis bekerja demi kepentingan publik, bukan demi keuntungan pribadi atau tekanan kekuasaan. Meski tak punya senjata atau kekuasaan, jurnalis mampu membongkar korupsi, mengungkap kerusakan lingkungan, dan menyuarakan masyarakat adat.

Baca Juga : Tembus Jalan Terjal demi Kesehatan Warga, Kisah Pengabdian Bidan Cahaya Husniati di Pelosok Majene

“Yang meliput kerusakan hutan, sungai yang tercemar limbah, atau perjuangan masyarakat adat bukan influencer, bukan buzzer, tapi jurnalis. Karena mereka meliput dengan jujur demi publik,” katanya menekankan.

Di akhir sambutan, Nany menegaskan perlunya solidaritas lintas sektor untuk menjaga kebebasan pers, mulai dari aktivis lingkungan, pegiat HAM, komunitas adat, hingga seniman. “Melindungi jurnalis berarti melindungi demokrasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Fesmed 2025, Syahrul Ramadhan, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung kelancaran acara. Ia menekankan bahwa Fesmed tahun ini digelar dengan semangat kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga : Kolaborasi OJK Sulselbar dan Komisi XI DPR RI Ajak Warga Sinjai Cerdas Finansial

“Tahun ini kami membuat Festival Media dengan semangat inklusif, berkolaborasi dengan berbagai kalangan, dan membahas permasalahan dari berbagai sektor. Terima kasih kepada semua yang sudah ikut memeriahkan acara ini,” ucap Syahrul.

Festival Media 2025 di Makassar akan berlangsung 12 hingga 14 September 2025 dengan rangkaian diskusi, pameran, lokakarya, hingga pertunjukan seni yang melibatkan jurnalis, aktivis, dan masyarakat sipil.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646