0%
logo header
Senin, 26 Oktober 2026 19:30

Tembus Jalan Terjal demi Kesehatan Warga, Kisah Pengabdian Bidan Cahaya Husniati di Pelosok Majene

Rizal
Editor : Rizal
Bidan Cahaya, Husniati menempuh jalan setapak untuk menjangkau masyarakat di pelosok Banua Adolang, Kabupaten Majene. (Foto: Istimewa)
Bidan Cahaya, Husniati menempuh jalan setapak untuk menjangkau masyarakat di pelosok Banua Adolang, Kabupaten Majene. (Foto: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAJENE – Menyusuri jalan yang tak selalu mulus, menempuh perjalanan panjang, hingga menyeberangi sungai dengan arus yang tak menentu. Bagi Bidan Husniati, semua itu bukan sekadar perjalanan menuju tempat kerja.

Di ujung perjalanan, ada warga yang menanti pertolongan, ibu dan anak yang membutuhkan pemeriksaan, serta masyarakat yang tak selalu mudah menjangkau fasilitas kesehatan.

Untuk mencapai Dusun Coci, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Husniati harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan sepeda motor, menyeberangi sungai, lalu berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Medan yang sulit tak menyurutkan langkahnya untuk tetap hadir memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di pelosok.

Baca Juga : Kolaborasi OJK Sulselbar dan Komisi XI DPR RI Ajak Warga Sinjai Cerdas Finansial

Pengabdian Husniati menjadi bagian dari komitmen PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di wilayah kerjanya.

Melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, PLN menghadirkan Program Bidan Cahaya untuk mendukung para bidan yang mengabdikan diri di wilayah dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan, sekaligus membantu mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, menyampaikan bahwa dedikasi para bidan di wilayah terpencil perlu mendapat dukungan agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Baca Juga : Perkuat Potensi PAD, Pansus Perda Pajak dan Retribusi Daerah DPRD Sulsel Konsultasi ke Kemendagri

“Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, kami berharap dukungan ini dapat membantu para bidan menjalankan pengabdian sekaligus mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didik.

Bagi Husniati, pengabdian tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Berasal dari keluarga sederhana di Banua Adolang, ia tumbuh bersama enam saudara lainnya dan menjadi satu-satunya yang memilih profesi sebagai bidan.

Di tengah kesibukannya melayani masyarakat, ia juga berupaya membantu pendidikan dua adiknya, sembari menjalani perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak.

Baca Juga : Di Forum Parlemen Asia, Deng Ical Dorong Keterbukaan Bukan Sekadar Slogan Demokrasi

Selama sekitar enam tahun menjalani profesi sebagai bidan, Husniati memilih mengabdikan diri di tanah kelahirannya. Ia melayani warga di sejumlah dusun, di antaranya Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci.

Tak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, ia juga mendatangi warga untuk memberikan edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Salah satu pengalaman yang membekas terjadi pada Jumat dini hari, 9 Oktober 2026. Husniati menerima panggilan untuk membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di Dusun Ratte. Bersama bidan lainnya, Masrianti, ia menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Puskesmas Pamboang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga : Baliho Raksasa Golkar Ditertibkan, Golkar Palopo Minta Penjelasan Bapenda

Namun, keluarga sempat ragu untuk melakukan rujukan. Husniati pun menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menjelaskan pentingnya mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.

Tantangan tak berhenti di situ. Ambulans tidak dapat menjangkau rumah pasien, sehingga ibu tersebut harus diusung menggunakan tandu selama sekitar satu jam menuju jalan yang bisa dilalui kendaraan.

Sekitar pukul 03.00 Wita, saat berada di dalam ambulans menuju Puskesmas Pamboang, ibu tersebut akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat 3.100 gram. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa di wilayah dengan akses terbatas, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang kemampuan medis, tetapi juga kesediaan untuk hadir dan mendampingi masyarakat dalam situasi sulit.

Baca Juga : Baliho Raksasa Golkar Ditertibkan, Golkar Palopo Minta Penjelasan Bapenda

Sebelum bergabung dalam Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela dari pasien untuk menunjang pelayanannya. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Dukungan melalui YBM PLN menjadi salah satu penguat baginya untuk terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Bagi Husniati, kesempatan untuk terus mendampingi masyarakat merupakan hal yang paling berarti. Ia berharap semakin banyak warga yang dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus menghadapi hambatan perjalanan yang berat.

“Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi,” ujar Husniati.

Baca Juga : Baliho Raksasa Golkar Ditertibkan, Golkar Palopo Minta Penjelasan Bapenda

Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, PLN UID Sulselrabar terus mendukung upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

Kisah Husniati menjadi gambaran bahwa kepedulian tak selalu hadir melalui langkah besar. Terkadang, kepedulian tumbuh dari perjalanan panjang, jalan terjal, dan kesediaan untuk tetap datang ketika seseorang membutuhkan pertolongan. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646