0%
logo header
Minggu, 12 Mei 2024 23:40

Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (1)Kepemimpinan Pelayan versi Habibie

M. Imran Syam
Editor : M. Imran Syam
Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (1)Kepemimpinan Pelayan versi Habibie

Pengantar:
Jumat (10/5/2024) pagi tiba-tiba masuk pesan whatsapp dari nomor tidak bernama. Di dalam narasi yang disampaikan tertulis nama Kak Taslin Arifin. Di situ tertulis undangan makan malam bersama Asmawi Syam di Rumah Makan Kayu Bangkoa, Jl. Haji Bau Makassar, pukul 19.00 Wita, 10 Mei 2024 malam.

Saya membaca komentar yang menyertai undangan itu sampai habis. Pengirim WA menulis begini: “Asmawi Syam yang bankir itu selama kariernya,  hampir tidak punya waktu yang tersisa untuk berbagai hal yang informal, dan sangat kepingin, dan rindu yang terpendam begitu dalam untuk bertemu dengan kerabatnya, seniornya, gurunya, dan teman seperjuangannya saat sebagai mahasiswa dan juga sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas pada tahun 70-an. Asmawi sebelumnya adalah Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan berbagai jabatan di pelbagai Bank, dan Lembaga Keuangan pada tingkat Nasional, dan terakhir sebagai Komisaris Bank BNI sampai dewasa ini. Hal itulah yg dia sampaikan kepada saya saat bertemu di Jakarta tanggal 6 Mei minggu lalu. Dalam kaitan itu saya sekeluarga bersama Asmawi Syam mengundang bapak dan ibu, para senior, yunior, dan kerabat seperjuangan untuk silaturahmi, makan malam bersama, serta menyambung kembali berbagai cerita yg terputus. 
Atas kehadirannya saya ucapkan banyak terima kasih
Hormat kami
Taslim Arifin & Asmawi Syam”.

Meskipun informasi ini mengesankan bahwa yang mengirim pesan itu pasti orang yang sangat tahu dengan Asmawi Syam, tetapi dasar saya yang darah jurnalismenya selalu mendidih, upaya  “check and re-check” pun harus ditempuh. Soalnya, pesan dengan nomor telepon tak “terdaftar” itu selalu perlakukan sama. Konfirmasi ke orang yang disebutkan di dalam pesan itu. Saya akhirnya mengontak langsung Pak Asmawi Syam. Saya memberi tahu ada undangan itu ketika telepon tersambung.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (5-Habis)Wawancara Sambil Bermain Golf dengan Wapres

“Oh..iya.. Datang, ya!,” kata bankir yang dilahirkan 16 Agustus 1955 itu, kemudian saya menutup telepon lalu membuka kembali nomor tak bernama yang mengirim pesan undangan tersebut. Ternyata ada tertulis Kak Taslim Arifin, hanya tidak muncul. Astaga!!! Tiba-tiba saya merasa berdosa.
“Insha Allah, saya hadir,” saya pun membalas pesan WA kak Taslim Arifin. Catatan M. Dahlan Abubakar berikut ini merangkum suasana temu kangen yang berlangsung selama tiga jam yang diantarai makan malam bersama itu. (Redaksi).

Guru Kehidupan

Pertemuan malam itu merupakan wujud rasa rindu Pak Asmawi Syam setelah terpisah selama 40 tahun lebih dengan teman-temannya karena berkecimpung di Bank. Jumpa tersebut dia istilahkan sebagai silaturahim dengan para guru, sahabat, dan kerabat yang menjadi guru kehidupannya. Dari mereka itu, dia memperoleh butir-butir kehidupan yang mengantarnya hingga pada posisi puncak di BRI dan kini tetap saja masih dipercayai sebagai pejabat di Bank plat merah.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (4)Satu Malam, Bobol 4 Kantor BRI Unit

Saya mencatat, beberapa nama penting yang hadir diantaranya (tanpa gelar): Rektor Unhas periode 2006-2014 Idrus A.Paturusi, mantan Direktur Program Pascasarjana Andi Husni Tanra & Nyonya, pakar Ekonomi Unhas Marzuki, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Abdul Rahman Kadir, Guru Besar UIN Alauddin Qasim Mathar, mantan Ketua Bappeda Sulsel S. Ruslan, mantan Ketua Dewan Mahasiswa Unhas Taslim Arifin dan Pudji Astuti Daud, Politisi Yagkin Pajalangi, Niniek Lantara dan Zulkarnain Latief, Syahrir Arief dan Hetty, mantan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Aminuddin Syam, purnabaktiwan Dosen FEB Unhas Tadjuddin Parenta, Anggota DPRD Sulsel Nikmatullah, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Zulkilfi, mantan Rektor Universitas 45 Andi Jaya Sose, pensiunan karyawan BNI Takwir Kamba, M.Dahlan Abubakar & Nyonya dan mohon maaf beberapa nama lain yang saya tidak ingat.

Asmawi yang malam itu ditemni istrinya, Aryani (Ani) Soemarmo. menceritakan, selesai Sarjana, tidak berapa lama setelah  keluar tahanan Kodam XIV Hasanuddin dan Kodim 1408 BS/Ujungpandang. Di dalam tahanan selain Asmawi terdapat sejumlah aktivis mahasiswa Unhas, diantaranya Taslim Arifin (Ketua Dewan Mahasiswa Unhas, dari Fakultas Ekonomi), A.Razak Thaha (Kedokteran), Achmad Ali (Hukum), Nursyamsu Saiman (Sastra),  Fachry Ammari (Sospol) — ketiga yang disebut terakhir sudah meninggal dunia — dan  Qasim Mathar (IAIN Alauddin).

Ketika di dalam tahanan, mereka didatangi oleh salah seorang tahanan Politik. Dia banyak bercerita tentang kehidupan di tahanan KIS. Katanya, jika sudah masuk ke rumah tahanan itu tidak jelas kapan keluarnya. Juga kelak tidak tahu mau jadi apa?
Mendengar cerita tahanan itu, kata Asmawi, sudah mulai merancang-rancang apa yang akan dilakukan kelak. Misalnya, Nursyamsu Saiman yang akrab disapa Ancu (meninggal 2019 di Bandung),  mengatakan akan menjadi seniman saja. Abdul Razak Taha (Atja) akan menjadi Dokter Swasta, dan Fachri Ammari oleh orang tuanya digadang-gadang jadi Sekretaris Daerah dan dia menangis membayangkan cita-citanya itu di dalam tahanan. “Dia akhirnya menjadi Sekda di tanah kelahirannya, Ternate,“ ujar Asmawi.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (3)Dari Staf ke Posisi Puncak

Dalam rekam digitalnya, Fahri Ammari juga tercatat sebagai salah seorang Tokoh pendidikan di Tarnate. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2017, sivitas akademika Universitas Khairun (Unkhair) Ternate berziarah ke makam tokoh-tokoh pendidikan di daerah itu, termasuk di antaranya Fahri Ammari.

Kepemimpinan pelayan

Setelah selesai menulis Skripsi dan meraih Ijazah Sarjana tahun 1979, Asmawi melapor ke Pak JK di PT Haji Kalla.
“Kau langsung ke Jakarta, tidak boleh tinggal di Makassar,” Pak JK berpesan.
Pak JK pun memberikan nota kepada Asmawi yang ditujukan kepada Direktur Utama Bank Niaga Abdul Gani. Pak Amiruddin yang ketika itu menjabat Rektor Unhas juga memberikan nota untuk melapor ke B.J. Habibie yang ketika itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pak Habibie yang selalu menyapa Pak Amiruddin dengan Ahmad adalah dua orang yang berteman lama. Pak Amir yang lebih tua dua tahun dari Habibie, saat bersekolah di Bandung, pernah kos di kediaman keluarga Habibie. Masih ada lagi satu nota, diberikan oleh Mustamin Daeng Matutu, dosen Fakultas Hukum Unhas yang kerap berlawanan dengan Pak Amiruddin. Nota Mustamin ini ditujukan kepada salah seorang temannya di Jakarta. Tidak satu pun nota itu Asmawi gunakan.
Hanya saja, Asmawi tetap melapor ke Pak Habibie.
“Apa pekerjaan kamu selama menjadi mahasiswa?,” tanya Habibie.
“Saya seorang aktivis,” jawab Asmawi.
“Bagus…bagus. Kamu harus sekolah, ya!” kata pria kelahiran Parapare 25 Januari 1936 dan wafat di Jakarta 11 September 2019 tersebut.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (2)Tiga ‘Jimat’ yang Buat ‘Survive’

Mendengar pesan Habibie tersebut, dalam hati Asmawi berkata, “saya tidak memiliki uang”. Dia pun menghabiskan waktunya membaca sejumlah buku di Perpustakaan. Kebetulan juga pada waktu itu ada Marwah Daud yang kemudian disekolahkan di Amerika Serikat dan setelah meraih Doktor mengabdi di BPPT.

Menceritakan kenangannya dengan Habibie, Asmawi menyimpan kesan yang tidak terlupakan. Di dalam buku “Leadership in Practice” yang ditulisnya bersama Rhenald Kasali (Balai Pustaka, 2019), Habibie memberikan sambutan khusus. Bahkan Asmawi memberi satu bab tentang masalah kepemimpinan versi Habibie.

Naskah di dalam buku tersebut diketik sendiri oleh Habibie, meskipun ketika itu sedang dirawat. Ketika Asmawi meminta akan mengetik dan Pak Habibie cukup membacakannya, Presiden ke-3 Indonesia itu menolak.
“Bapak yang bicara, saya yang mengetik,” usul Asmawi.
“Nggak, saya mau ketik sendiri,” balas Habibie kemudian bangun dari berbaring dan duduk mengetik. Padahal, waktu itu tubuhnya kerap tremor (gerakan anggota tubuh yang tak terkontrol).
Akhirnya tim dokter memberi tahu Asmawi.
“Bapak mau istirahat, bapak boleh di luar dulu,” kata Asmawi menirukan permintaan dokter yang merawat Habibie.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (2)Tiga ‘Jimat’ yang Buat ‘Survive’

Ada satu kisah Habibie yang selalu terngiang di dalam benak Asmawi jika berbicara mengenai masalah kepemimpinan. Suatu hari, setelah beberapa hari dilantik sebagai Presiden RI, Habibie menerima tamu kenegaraan. Tamu yang tidak dikenalnya itu sebenarnya harus diterima oleh Soeharto. Namun pada tanggal 21 Mei 1998, Pak Harto mengundurkan diri, akhirnya Habibie-lah yang menerimanya karena sudah dijadwalkan.

Tamu itu diterima pada suatu acara jamuan makan malam di Istana Merdeka.
“Itu yang di pojok itu, siapa?,” tiba-tiba saja tamu itu bertanya.
“Itu pelayan,” jawab Habibie polos.
“Terus yang memakai jas, siapa?,” tamu pun terus bertanya.
“Itu para menteri,” balas Habibie.
“Mengapa semua pelayan itu pakaiannya sama dengan Anda sebagai Presiden (berkopiah),” cecar sang Tamu.
“Iya, saya juga pelayan ‘the people Republic of Indonesia’. Saya pelayan bangsa Indonesia, makanya saya pakai kopiah. Sedangkan yang tidak memakai kopiah, itu pembantu saya,” kata Habibie dengan diplomatis.

Asmawi mengaku sangat sedih karena pada peluncuran buku 8 Oktober 2019 di Ball Room Hotel JS Luwansa Jl.Rasuna Raid Jakarta Selatan, Pak Habibie tidak sempat menghadirinya karena berpulang pada 11 September 2019.  Padahal, Asmawi sudah menjadwalkan bahwa peluncuran buku ini dilakukan di lokasi yang berdekatan dengan kediaman Habibie.

Baca Juga : Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (2)Tiga ‘Jimat’ yang Buat ‘Survive’

Asmawi kemudian memberi tahu Pak JK periahal persiapan peluncuran buku ini. Pak JK sendiri memberi sambutan di dalam buku tersebut dan juga saat acara peluncuran buku. (Bersambung)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646