REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya tekanan inflasi.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, sektor jasa keuangan Indonesia masih berada pada level yang stabil, didukung oleh respons kebijakan yang memadai serta mulai meredanya tekanan eksternal.
“Stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi. Hal ini didukung oleh meredanya tekanan eksternal serta bauran kebijakan yang responsif dari otoritas terkait,” ujarnya pada Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK secara virtual, kemarin.
Baca Juga : OJK Sulselbar Ajak Ibu-ibu di Desa Tongke-Tongke Sinjai Kelola Keuangan Secara Sehat
Ia menjelaskan, perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah telah mengurangi tekanan di pasar energi global. Harga minyak dunia kembali mendekati level sebelum konflik, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda. Meski demikian, OJK tetap mencermati risiko geopolitik karena stabilitas kawasan masih rentan terhadap potensi eskalasi baru.
Di sisi global, Friderica mengatakan indikator perekonomian menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi pasar, meskipun terjadi perbedaan kinerja antarnegara. Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi dengan pasar tenaga kerja yang kuat, namun menghadapi kenaikan inflasi.
Sementara itu, Tiongkok masih dibayangi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, sedangkan aktivitas ekonomi Eropa masih tertahan akibat permintaan yang belum pulih meski sektor manufaktur mulai membaik.
Baca Juga : LPSK Beri Perlindungan Ke Jurnalis Korban Kekerasan di Makassar
Menurutnya, lembaga internasional seperti OECD dan Bank Dunia juga telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 masing-masing menjadi 2,8 persen dan 2,5 persen. Prospek tersebut berpotensi kembali melemah apabila konflik geopolitik meningkat atau gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama.
“Prospek pertumbuhan global masih dibayangi lemahnya permintaan dunia, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kondisi ini memengaruhi selera risiko investor di pasar keuangan global,” kata Friderica.
Di dalam negeri, OJK mencatat sejumlah indikator ekonomi mengalami moderasi seiring meningkatnya tekanan inflasi. Aktivitas manufaktur yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) mengalami pelemahan, surplus neraca perdagangan menyempit, dan cadangan devisa menurun.
Baca Juga : Back To School Ala NIPAH PARK, Hadirkan Program Edukatif dan Promo Spesial
“Hanya saja stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga berkat sinergi kebijakan fiskal dan moneter,” tegasnya.
Kedepannya, OJK akan terus memperkuat pengawasan sektor jasa keuangan, serta berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.
