0%
logo header
Senin, 31 Agustus 2026 15:46

PLN Berhasil Pacu Produktivitas Panen KWT Wulasi Mandiri di Malili Tumbuh Berlipat

Chaerani
Editor : Chaerani
Penyuluh pertanian memberikan materi pengelolaan lahan dan pembuatan kompos kepada anggota KWT Wulasi Mandiri dalam program pemberdayaan masyarakat oleh PLN UIP Sulawesi di Desa Manurung, Luwu Timur. (Dok. Humas PLN UIP Sulawesi)
Penyuluh pertanian memberikan materi pengelolaan lahan dan pembuatan kompos kepada anggota KWT Wulasi Mandiri dalam program pemberdayaan masyarakat oleh PLN UIP Sulawesi di Desa Manurung, Luwu Timur. (Dok. Humas PLN UIP Sulawesi)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, LUWU TIMUR — Sisa tanaman yang dahulu hanya dibiarkan membusuk, kini mulai diolah menjadi kompos. Pengetahuan budidaya yang sebelumnya belum dikenal mulai diterapkan di lahan, sementara hasil panen perlahan meningkat.

Perubahan tersebut dirasakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Wulasi Mandiri di Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, setelah memperoleh pendampingan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi.

Salah satu perubahan yang paling terasa terlihat dari hasil budidaya kangkung. Jika sebelumnya nilai penjualan dalam satu kali panen berada di kisaran Rp200 ribu, kini KWT Wulasi Mandiri mampu memperoleh sekitar Rp485 ribu dalam satu kali panen. Nilai tersebut masih berpotensi bertambah seiring tanaman timun yang saat ini mulai berbuah dan siap memasuki masa panen.

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Budaya Menabung Bagi Generasi Muda

Peningkatan hasil panen tersebut berjalan seiring dengan perubahan cara anggota kelompok mengelola lahan. Melalui pelatihan yang didampingi penyuluh pertanian, sebanyak 14 anggota KWT memperoleh pengetahuan mengenai pembuatan kompos serta Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), yang kemudian mulai mereka praktikkan secara mandiri.

Sebelumnya, sisa hasil pertanian hanya ditempatkan dalam wadah dan dibiarkan mengalami pembusukan. Setelah mengikuti pelatihan, anggota KWT mulai memahami bahwa proses pembuatan kompos perlu dikontrol, mulai dari tingkat kelembapan hingga kondisi bahan selama proses penguraian, agar dapat menghasilkan kompos yang layak dimanfaatkan untuk tanaman.

Ketua KWT Wulasi Mandiri, Nurhapidah, mengatakan pengetahuan tersebut menjadi pengalaman baru bagi anggota kelompok. Selain mulai memproduksi kompos, kelompok juga telah mencoba menerapkan PGPR pada lahan pertanian mereka.

Baca Juga : Kapal Kemanusiaan KALLA Bawa Relawan dan Bantuan Bagi Korban Gempa NTT yang Belum Terjangkau

“Dari pelatihan kami belajar bahwa membuat kompos bukan hanya mencampur bahan yang ada di sekitar. Kondisinya juga harus diperhatikan, apakah terlalu basah, terlalu kering, atau mengalami pembusukan. Sekarang kami mulai membuat kompos sendiri dan sudah menerapkan PGPR di lahan KWT,” ujarnya, dalam keterangan resminya, kemarin.

PGPR yang dibuat anggota KWT memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti akar bambu, dedak, terasi, dan air. Setelah melalui proses pengolahan dan fermentasi, hasilnya dimanfaatkan untuk membantu mendukung pertumbuhan tanaman.

Pengetahuan baru tersebut melengkapi dukungan fasilitas yang sebelumnya diberikan PLN UIP Sulawesi berupa green house, rumah kompos, sistem pengairan sederhana, serta sarana pendukung budidaya. Keberadaan fasilitas tersebut membuat proses pembibitan dan pemeliharaan tanaman menjadi lebih terarah, termasuk membantu kelompok menjaga ketersediaan air bagi tanaman pada musim kemarau.

Baca Juga : PLN dan Kejaksaan Dorong Pengawalan Hukum Proyek Ketenagalistrikan di Sulsel

Bagi Nurhapidah, perubahan yang dirasakan kelompok tidak hanya terlihat dari peningkatan hasil panen. Aktivitas KWT yang semakin berkembang juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kelompoknya.

“Dulu sekali panen kalau sudah menyentuh Rp200 ribu itu sudah terhitung banyak sekali. Sekarang alhamdulillah bisa sampai hampir Rp500 ribu, dan ini belum termasuk timun yang nanti kami panen. Orang-orang juga semakin percaya dengan KWT kami setelah adanya bantuan PLN. Sekarang sudah ada yang datang meminta bibit dari kami,” ungkapnya.

Sementara, General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha mengatakan, keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari tersedianya fasilitas, tetapi juga dari kemampuan program dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat.

Baca Juga : Lewat Jalan Sehat di Desa Sukamaju, Heriwawan Dorong Bangkitnya Perekonomian Warga

“Yang ingin kami tumbuhkan bukan hanya sarana pertaniannya, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian kelompok. Ketika fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan, pengetahuan baru diterapkan, kemudian produktivitas masyarakat ikut meningkat, di situlah manfaat program TJSL menjadi semakin nyata dan berkelanjutan,” ujar Aditya.

Menurutnya, pemberdayaan KWT Wulasi Mandiri menjadi bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya SUTET 275 kV Wotu–Bungku.

“PLN ingin keberadaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan juga menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Melalui program TJSL, kami berupaya mendorong pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri,” tambahnya.

Baca Juga : Lewat Jalan Sehat di Desa Sukamaju, Heriwawan Dorong Bangkitnya Perekonomian Warga

Kini, green house dan rumah kompos tidak sekadar menjadi fasilitas baru bagi KWT Wulasi Mandiri. Keduanya berkembang menjadi ruang belajar dan ruang produksi bagi para anggota untuk mencoba pengetahuan baru, meningkatkan hasil pertanian, serta membuka peluang pengembangan usaha kelompok ke depan.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646