Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2021: Anak Penggembala Pembelajar

0

Oleh: M. Dahlan Abubakar (Pimpinan Redaksi Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID — Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2021, saya menukilkan (menulis kembali) satu peristiwa yang sebenarnya lebih tepat jika disebut sebagai praktik “development journalism” (jurnalistik pembangunan), yakni bagaimana suatu berita memengarugi kebijakan atau perilaku berpemerintahan dan berdampak terhadap perubahan dan pembangunan. Berita dapat memberikan kontribusi aktif terhadap kemajuan pembangunan suatu daerah.

Pada awal tahun 1979 – tiga tahun setelah menjadi wartawan Harian “Pedoman Rakyat” — saya  mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) gelombang IX di Kabupaten Takalar. Saat itu, para mahasiswa KKN memperoleh biaya hidup. Kalau tidak salah Rp 24.000 per bulan. Biaya sebesar itu dibagi untuk biaya konsumsi dan pemondokan. Selebihnya sebagai uang rokok mahasiswa.

Setiap desa ditempati 2 orang mahasiswa dari fakultas yang berbeda. Saya ditempatkan  di desa Bajeng, yang ibu kotanya terletak di pinggir jalan provinsi  poros Makassar-Bulukumba. Teman se-desa adalah mahasiswa Fakultas Pertanian, Sirajuddin Pallampa. Selain mahasiswa, dia juga Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Takalar. Jadi, kami biasa meninjau lokasi di berbagai dusun dengan menggunakan mobil dinas Hardtop warna krem berplat merah.

Ketika ber-KKN ini ada satu prestasi yang hingga kini tidak dapat dilupakan. Pada saat itu, kami berdua memprogramkan pembimbingan terhadap Kelompok Belajar Penggembala di salah satu dusun di Desa Bajeng, Salaka namanya. Tutor anak-anak penggembala ini adalah seorang tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Numueni, seorang gadis desa bertubuh padat tidak terlalu tinggi yang menjadi sukarelawan bagi beberapa orang anak didiknya yang tidak sempat mengenyam pendidikan dasar formal. Dia kebetulan belum diangkat sebagai guru. Anak-anak penggembala ini rata-rata tidak sekolah. Pada siang hari mereka menggembala ternak – kebanyakan kerbau – di sawah dan memanfaatkan sedikit waktu malamnya untuk mengenal huruf.

Setelah dibimbing Numueni, mereka pada siang hari membawa buku Paket Belajar A. Sembari menggembala kerbaunya, di atas punggung hewan gembalaannya, mereka membaca buku paket tersebut. Biasanya mereka mengulang apa yang sudah dibacanya pada malam hari di kediaman Numueni, di sebuah ruang berlantai tanah dengan bangku berupa beberapa batang bambu yang disandarkan di atas batang kayu dengan meja yang terbuat dari dua lembar papan kayu.

Bila hari sudah malam, mereka berkumpul di lantai bawah kediaman Numueni. Di situ ada papan tulis, batang bambu yang disunglap menjadi bangku dan tempat duduk. Anak-anak penggembala tersebut berselempang sarung. Di pinggangnya terselip ‘’badik’’ (pisau khas Bugis-Makassar), bahkan parang panjang tergeletak di atas papan panjang yang menjadi meja tempat mereka meletakkan buku paket yang digunakan. Numueni membiarkan saja situasi seperti ini berjalan apa adanya. Membiarkan mereka datang apa adanya dan bersyukur masih mau belajar mengenali huruf dan dapat membaca.
Jalan ke dusun Salaka, tempat kelompok belajar pengembala ini, waktu itu terbuat dari tanah, licin pada musim hujan dan berdebu jika musim kemarau.  Ukurannya, sempit dan dua kendaraan roda empat tidak bisa berpapasan.

Guna menyaksikan anak-anak penggembala ini belajar, suatu malam saya dan Pak Siradjuddin Pallampa menyambangi mereka yang sedang belajar di kediaman Numueni ini. Tercatat sekali itu kami datang. Dan, itu sangat bersejarah karena saya dapat memperoleh informasi yang menarik sebagai mahasiswa yang wartawan yang sedang mengikuti KKN. 

Kisah tentang Kelompok Belajar Penggembala ini saya tulis di harian Suara Karya Jakarta dan dimuat di halaman depan. Setelah tulisan itu dimuat, —  kami pun selesai melaksanakan KKN — Komisi Pengembangan Pendidikan Nasional berkunjung ke dusun Salaka. Mereka ingin melihat kelompok belajar ‘’unik’’ tersebut. Jalan ke Dusun Salaka pun mulai mendapat perhatian. Diperlebar dan sedikit diratakan karena bakal ada tamu dari ibu kota negara yang bakal berkunjung. 

Setelah komisi tersebut pulang, giliran anggota DPR RI juga bertandang. Jalan ke dusun Salaka yang semula becek, licin dan sempit, mulai dikerjakan dan diperkeras. Tahap awalnya hanya berupa pengerasan. Biar hujan turun, jalan tidak becek lagi.  Kendaraan sudah mulai bisa leluasa ke kampung itu. 

Sekembalinya anggota DPR RI, mungkin berita kunjungan itu sampai viral, ternyata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr.Daoed Joesoef juga berkeinginan mengunjungi kelompok belajar tersebut. Apa boleh buat, lantaran menteri akan berkunjung, jalan ke dusun Salaka tiba-tiba tersiram aspal.  Penduduk heran melihat ruas jalan ke dusun mereka mulus dan licin sekejap bagai cermin hitam.

Beberapa saat sebelum Mendikbud berkunjung, melalui Pembimbing KKN Kabupaten Takalar beberapa tahun sebelumnya  Drs.M.Said Pammusu (sekarang sudah haji dan bergelar M.Si serta pernah menjabat Wakil Bupati Takalar dan Wakil Ketua DPRD Takalar), menyampaikan  bahwa  Bupati Takalar Haji Ibrahim Tulle (waktu itu) berpesan agar saya hadir pada acara kunjungan tersebut. Bupati berpikir, gara-gara tulisan saya itulah hingga petinggi negara berkunjung ke dusun yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal itu.

Pada hari H kunjungan Daoed Joesoef, saya  hadir meliput. Dalam dialog dengan Mendikbud, Numueni menjelaskan hanya satu keinginannya, yaitu menjadi guru dan pegawai negeri sipil. Kabarnya kini dia sudah menjadi seorang guru SD. Saya belum pernah lagi bertemu dengan dia setelah kedatangan Mendikbud Daoed Joesoef itu. Namun yang pasti, dusun Salaka yang kumuh pada awal tahun 1979, kini sudah berubah seolah-olah menjadi bagian dari Kota Pattalassang, ibu kota Kabupaten Takalar. Jalur jalan beraspal mulus sudah terbangun ke dusun itu.

Di luar kediaman Numueni, disaat Mendikbud usai berdialog dengan sang tutor anak penggembala, saya bertemu dengan Pak Ibrahim Tulle yang sengaja saya tunggui untuk sekadar menyampaikan selamat atas kedatangan Menteri.

‘’Kamulah yang berjasa, sehingga Pak Menteri datang ke sini,’’ kata Pak Ibrahim Tulle  sembari menepuk bahu saya saat bertemu.

Saya hanya tersenyum kecil, sembari mengenang gara-gara tulisan di Suara Karya itulah Komisi Pembaharuan Pendidikan, DPR RI, hingga Mendikbud Daoed Joesoef menginjakkan kakinya di Kampung Salaka Takalar yang selama ini sama sekali tidak pernah dikenal dunia luar.

Dampak suatu tulisan hingga terjadinya perubahan kondisi suatu daerah atau dusun seperti yang terjadi di Salaka itu, selalu saya  jadikan contoh dalam setiap memberikan ceramah jurnalistik. Contoh seperti ini termasuk dalam kaitan dengan jurnalistik pembangunan  yakni suatu karya jurnalistik yang dapat memberikan dampak terhadap terjadinya perubahan pembangunan di suatu daerah. Jurnalistik model ini diperkenalkan pada tahun 1970-an oleh sejumlah wartawan  pada pertemuan Press Foundation of Asia di Manila, Filipina.

Jurnalisme ini beranggapan bahwa diperlukan sebarisan wartawan berita selidik yang terlatih dalam soal ekonomi dan yang dapat menerangkan kepada pembaca tentang seluk-beluk masalah kehidupan rakyat dan meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan. Jurnalisme ternyata mengalami perkembangan yang sangat dahsyat. Ilmu jurnalistik yang saya peroleh dulu kini sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Apalagi ditingkahi kemajuan teknologi dan informasi yang sebenarnya sangat diuntungkan adalah komunitas wartawan.

Berita menurut versi puluhan tahun silam adalah informasi peristiwa yang sudah terjadi, kini justru berubah, Berita adalah peristiwa yang sedang terjadi, saat orang mengetahui suatu kejadian atau peristiwa pada waktu yang sama melalui siaran langsung (live). Ya, misalnya melalui live streaming media daring.

Beberapa bulan setelah menyelesaikan KKN di Takalar, istri melahirkan anak kami yang kedua dan terakhir, Haryati pada tanggal 28 September 1979 di RSU Dadi Ujungpandang. Menurut catatan ayah, Yanti, panggilan anak kedua saya itu, lahir pada pukul 22.45 Wita.

Saya sendiri tidak mencatat, tetapi ayah yang di Bima justru mencatatnya. Itulah kebiasaan ayah yang tidak pernah hilang dan menurunkan budaya literasi kepada saya. (*)

Tinggalkan Balasan