Selasa, Prof. Basri Hasanuddin Akan Bawakan Kuliah Umum di UCM

  • Bagikan
Prof.Dr.H.Basri Hasanuddin, M.A.

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Rektor Universitas Hasanuddin periode 1989-1993 & 1993-1997, Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin, M.A, akan membawakan kuliah umum di depan para mahasiswa yang juga dihadiri para pimpinan dan staf Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM), pada Selasa (21/08/2021) besok.

Kuliah umum itu akan berlangsung secara luring terbatas dengan protokol kesehatan Covid-19 di Aula SMP Lt 1 UCM pukul 09.45 Wita.

Kepala Humas UCM M.Dahlan Abubakar menjelaskan, mantan Menteri Koordinator Perekonomian dan Pengentasan Kemiskinan era Presiden Megawati Soekarno Putri itu akan membawakan kuliah umum berjudul “Peran dan Fungsi Mahasiswa pada Era 4.00”.

“Materi yang dibawakan Prof. Basri Hasanuddin ini diharapkan dapat membuka wawasan para mahasiswa, terutama mahasiswa baru akan pentingnya memahami era 4.0 dalam interaksi global saat ini,” ujar Dahlan, Senin (20/09/2021).

Basri Hasanuddin yang menamatkan pendidikan doktor di Universitas of Phillipines 1977 tersebut akan berbicara mengenai hubungan era 4,0 dikaitkan dengan perkembangan ekonomi global saat ini. Pengalamannya sebagai Duta Besar RI di Tehran, Iran, juga akan memungkinkan beliau menyampaikan informasi terkait hubungan antarnegara, terutama dalam bidang ekonomi menghadapi era 4,0.

Menurut Dahlan yang mantan Kepala Humas Unhas tersebut, kuliah umum Prof.Basri Hasanuddin yang juga merupakan Pembina Yayasan SARI Sulawesi Selatan tersebut wemerupakan yang kedua dalam pekan ini di UCM. Pada tanggal 17 September 2021, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia periode 2013-2016, Dr.Hamdan Zoelva, S.H., M.H. juga telah tampil membawakan kuliah umum yang dikemas oleh Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi dan Humaniora UCM.

Hamdan Zoelva yang saat ini menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam membahas mengenai relasi antara Islam dengan kebangsaan yang dikemas dalam judul “Islam dan Kebangsaan”.

Dia mengatakan dalam kuliah umumnya itu, Islam dan kebangsaan tidak dapat dipertentangkan karena keduanya dapat saling menguatkan. (*)

  • Bagikan