0%
logo header
Senin, 29 Juni 2026 13:16

Tumbuh Positif, Penghimpunan DPK Warga Sulsel di Perbankan Tetap Kuat

Chaerani
Editor : Chaerani
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. (Dok. Istimewa)
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. (Dok. Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga April 2026 tetap menunjukkan tren positif. Capaian ini pun termasuk pada penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dinilai tetap kuat.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, Moch Muchlasin menyebutkan, di sisi penghimpunan DPK mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 7,23 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp149,46 triliun. Capaian tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat yang tetap terjaga terhadap industri perbankan di tengah dinamika perekonomian.

“Pertumbuhan DPK yang konsisten menjadi indikator positif bagi stabilitas sektor perbankan kita di Sulawesi Selatan. Saat ini total DPK perbankan mencapai Rp149,46 triliun,” terangnya, dalam keterangannya, kemarin.

Baca Juga : OJK Sulselbar Ajak Ibu-ibu di Desa Tongke-Tongke Sinjai Kelola Keuangan Secara Sehat

Ia menjelaskan, struktur DPK di Sulawesi Selatan masih didominasi oleh simpanan tabungan dengan porsi 60,72 persen dari total DPK. Selanjutnya, deposito berkontribusi sebesar 22,79 persen dan giro sebesar 16,50 persen.

Selain pertumbuhan dana masyarakat, fungsi intermediasi perbankan juga tetap berjalan dengan baik. Hal tersebut tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada pada level 116,82 persen.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan tetap menjalankan fungsi intermediasi secara optimal dengan menyalurkan dana yang dihimpun kepada sektor produktif, sehingga diharapkan dapat terus mendukung aktivitas ekonomi dan pertumbuhan di Sulawesi Selatan,” katanya.

Baca Juga : LPSK Beri Perlindungan Ke Jurnalis Korban Kekerasan di Makassar

Sebelumnya, OJK menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap stabil dan menunjukkan ketahanan hingga posisi April 2026.

Kondisi ini menandakan bahwa sektor jasa keuangan tidak memberikan pengaruh signifikan di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Terutama, pada meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan.

Muchlasin mengungkapkan bahwa stabilitas tersebut tercermin dari beberapa indikator sektor jasa keuangan. Salah satunya pada kinerja sektor perbankan melalui pembukuan aset mencapai Rp215,79 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).

Baca Juga : Back To School Ala NIPAH PARK, Hadirkan Program Edukatif dan Promo Spesial

“Pada posisi April 2026, total aset perbankan tumbuh sebesar 5,29 persen yoy menjadi Rp215,79 triliun,” ungkapnya.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646