Curah Hujan Tinggi, Badan Informasi Geospasial Ingatkan Warga Luwu Utara Waspada Kemungkinan Banjir Bandang Susulan

0
Foto Udata Kota Masamba Kabupaten Luwu Utara setelah diterjang Banjir Bandang.

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Banjir bandang menerjang wilayah Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pada Senin (13/07/2020) lalu. Banjir juga melanda Sabbang, Malangke, Malangke Barat, Baebunta dan Baebunta Selatan.

Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai dan berasosiasi dengan kipas aluvial. Material sedimen yang dibawa oleh banjir bandang biasanya berasal dari perbukitan curam, kemudian mengalir cepat akibat tingginya curah hujan hingga meluap di sungai yang berada pada dataran atau kipas aluvial di bawahnya.

Kepala Bidang Kebencanaan dan Pemetaan Iklim Badan Informasi Geospasial, Ferrari Pinem, mengatakan bahwa, berdasarkan data topografi dari DEMNAS, diperoleh profil kemiringan lereng pada aliran sungai penyebab terjadinya banjir bandang yang melanda Luwu Utara.

“Dari analisis ini dapat diidentifikasi bahwa kemiringan lereng yang curam di hulu dapat menjadi salah satu faktor penyebab banjir bandang pada dataran aluvial di bawahnya. Walaupun jarak yang cukup jauh dari hulu sampai ke dataran aluvial, namun morfometri sungai yang terjal di hulu sudah cukup untuk mengalirkan material sedimen, serta ditambah akumulasi aliran dan sedimen pada pertemuan cabang sungai,” ujarnya, melalui rilis yang diterima republinews.co.id, Minggu (19/07/2020).

Pada banjir bandang di Masamba dan sekitarnya, akumulasi material sedimen terbawa dari hulu di utara akibat tingginya curah hujan yang terjadi beberapa hari terakhir. Intensitas hujan sedang hingga tinggi telah terjadi sejak 12 Juli 2020 (sehari sebelum banjir bandang pada 13 Juli 2020) berdasarkan pengamatan curah hujan dan satelit cuaca (BMKG).

“Selain itu, terdapat pertemuan cabang sungai pada perbatasan dengan dataran aluvial. Sehingga, material sedimen yang terbawa meluap karena tak terbendung oleh derasnya aliran air dari hulu dan menurunnya kecepatan aliran pada gradien sungai yang landai di dataran aluvial. Akibatnya, banjir bandang melanda wilayah dataran aluvial tersebut,” katanya.

Kasus serupa juga terjadi di Kecamatan Sabang hingga Baebunta, dimana pertemuan beberapa cabang sungai dari perbukitan di hulu, mengakibatkan luapan banjir bandang di dataran aluvial di bawahnya.

“Dari analisa peta geologi dan peta potensi gerakan tanah (Badan Geologi), daerah bencana merupakan alluvial yang terdiri dari lumpur, lempung, pasir, kerikil dan kerakal dimana bagian utara yang menjadi sumber material bandang tersusun atas Formasi Bone-bone berupa perselingan batu pasir, konglomerat, napal dan lempung tufan. Selian itu, di bagian lereng bawah terdapat endapan lava basalt dan andesit, breksi gunung api dan tuf dari formasi Lamasi. Potensi gerakan tanah (kemudahan terjadinya longsor) pada daerah ini berada pada level menengah sampai tinggi, terutama pada daerah di lembah sungai, gawir, dan tebing lereng. Hal ini dikuatkan juga dari analisa geomorfologi dimana wilayah atas terdiri dari perbukitan dengan lereng yang terjal dan curam,” ucapnya.

Berdasarkan pengamatan dari citra satelit resolusi tinggi (CSRT), wilayah sepanjang sungai banyak ditemukan area terbangun dan lahan pertanian. Ini tentunya mengurangi daya dukung lahan dalam menahan laju air yang jatuh diatasnya.

“Kemampuan lahan untuk menyerap air akibat ketidaksesuaian penggunaan lahan pada daerah hulu, menyebabkan terjadinya banjir bandang. Rehabilitasi lahan dan hutan pada daerah hulu perlu dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dikemudian hari,” ujarnya.

Pemantauan curah hujan juga menjadi hal penting untuk memonitoring kemungkinan bencana susulan pada wilayah sekitar, mengingat beberapa wilayah sekitar memiliki karakteristik fisik dengan potensi hampir sama dengan wilayah terdampak.

“Curah hujan yang diperkirakan masih tinggi di wilayah sekitar, masyarakat diminta lebih waspada terhadap kemungkinan banjir bandang susulan,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan