0%
logo header
Senin, 27 Juni 2022 22:58

Dinilai Terancam Punah, Pembatasan Pengunjung di Kawasan Komodo Akan Diberlakukan

Arnas Amdas
Editor : Arnas Amdas
Konferensi pers Penguatan Fungsi Taman Nasional Komodo sebagai Upaya Mempertahankan Nilai Jasa Ekosistem secara virtual. (SC Chaerani/Republiknews.co.id)
Konferensi pers Penguatan Fungsi Taman Nasional Komodo sebagai Upaya Mempertahankan Nilai Jasa Ekosistem secara virtual. (SC Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Komodo sebagai salah satu spesies endemik Indonesia yang habitatnya hanya ada di Taman Nasional Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kini keberadaan satwa yang dilindungi tersebut terancam punah atau Critically Endangered (IUCN).

Dengan status tersebut perlu pembatasan yang ketat dari wisatawan yang datang berkunjung ke taman tersebut.

Baca Juga : Dalam Rapat Terbatas, Presiden Jokowi Dorong Peningkatan Produksi Jagung Nasional

Kondisi tersebut juga diperparah dengan jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo yang naik dari tahun ke tahun, sementara tidak ada pembatasan pengunjung.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong dalam presconnya secara virtual, Senin (27/06/2022).

“Ini tentunya akan mengancam keberadaan dan kelestarian biodiversitas di Taman Nasional Komodo,” kata Alue.

Baca Juga : Wajib Pajak Bisa Gunakan NIK Pengganti NPWP

Dengan melihat kondisi tersebut maka pemerintah akan melakukan program penguatan fungsi sebagai perwujudan komitmen pemerintah dalam upaya menjaga keutuhan nilai jasa ekosistem Taman Nasional Komodo.

Kebijakan awal yang akan direncanakan yakni tetap membuka beberapa destinasi yang ada di wilayah tersebut namun dengan pembatasan dan manajemen kunjungan tersistem sebagai upaya perlindungan, pengaturan, dan tata kelola kawasan Taman Nasional Komodo.

“Ini bertujuan untuk mengajak masyarakat secara kolektif beralih ke pariwisata berkelanjutan yang lebih sadar akan dampak aktivitasnya, dan bahwa daya tarik wisata dan kelestarian konservasi dapat hidup berdampingan,” jelas Alue.

Baca Juga : Kementrian PUPR Bangun Bendungan Sandawarna Dengan Konsep Green Natural Recycle

Sementara, Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang mengungkapkan, dengan melihat tren kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo dalam sepuluh tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah yang signifikan akibat promosi intensif di sosial media.

Meskipun meningkatkan ekonomi, kata dia namun hal ini memberikan dampak terhadap perilaku Komodo.

“Komodo yang berada di area dengan aktivitas manusia tinggi atau ekowisata secara signifikan menunjukan berkurangnya kewaspadaan dan cenderung adaptif dengan keberadaan manusia,” terang Lukita.

Baca Juga : Menparekraf Jelaskan Kenaikan Tarif Masuk Kawasan Taman Nasional Komodo untuk Ini

Sementara, Komodo yang berada di lokasi ekowisata cenderung memiliki bobot lebih besar, dimana hal ini bisa berdampak pada kerusakan ekosistem sekitarnya (kebutuhan pangan meningkat yaitu rusa).

Hal senada diungkapkan Tim Kajian Daya Dukung Daya Tampung Berbasis Jasa Ekosistem di Taman Nasional Komodo Irman Firmansyah mengatakan, ada beberapa isu yang perlu menjadi perhatian jika ingin memelihara nilai jasa ekosistem demi kelangsungan hidup Komodo.

Ia menyebutkan, isu yang utama adalah pengelolaan sampah, sistem perlindungan dan keamanan, serta tata kelola kawasan yang perlu melibatkan berbagai lembaga multisektoral.

Baca Juga : Menparekraf Jelaskan Kenaikan Tarif Masuk Kawasan Taman Nasional Komodo untuk Ini

“Jika upaya konservasi yang ketat tidak diperkenalkan dan wisatawan tidak mulai dibatasi, kita akan melihat penurunan yang signifikan dalam nilai jasa ekosistem di Pulau Komodo dan Pulau Padar,” terang Imran.

Koordinator Pelaksana Program Penguatan Fungsi di Taman Nasional Komodo Carolina Noge menjelaskan, sesuai perhitungan dan rekomendasi yang diperoleh dari hasil kajian, maka pembatasan jumlah wisatawan kurang lebih 200.000 orang per tahun dengan sistem manajemen kunjungan yang terintegrasi berbasis reservasi online.

Sebagai langkah awal kebijakan tersebut akan mulai diberlakukan pada 1 Agustus 2022 mendatang.

Baca Juga : Menparekraf Jelaskan Kenaikan Tarif Masuk Kawasan Taman Nasional Komodo untuk Ini

Selanjutnya, kompensasi biaya konservasi sebagai upaya penguatan fungsi sebesar Rp3.750.000 per orang per tahun yang akan diterapkan secara kolektif tersistem (Rp 15,000,000 per 4 orang per tahun).

“Kami berharap, dengan diberlakukannya pembatasan kunjungan dan kompensasi biaya konservasi dapat menumbuhkan perilaku pariwisata yang lebih sadar di lingkungan Taman Nasional Komodo. Tentunya, untuk penguatan fungsi di kawasan ini perlu sinergitas antar lembaga, dan multisektoral sebagai penjaga gerbang dan pelindung,” tegasnya.

Penulis : Chaerani
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646