REPUBLIKNEWS.CO.ID, BANJARBARU — da kitab dan dua gelas kecil, yang menggambarkan sebuah percakapan dua orang sufi tengah berduduk di antara meja mini; ada sosok Syamsi Tabriz, guru bagi Jalaluddin Rumi.
Potret itu adalah lukisan milik Hajriansyah, lelaki berusia 43 tahun itu menggoreskan kuasnya di atas kanvas berukuran 28×42 cm, dan terpajang pada dinding Rumah Oettara, Jalan Junjung Buih, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dia mengusung pameran tunggal ketiganya bertajuk: Intim.
Perjalanan berkesenian sejak 1999. Sekilas ke belakang, dia pernah menggelar pameran tunggal pertama di UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan pada 2007 silam. Kemudian, pameran tunggal kedua berjudul SULUK; Journey to Indeph Memory di Kampung Buku Banjarmasin. Dan tahun ini, Hajri menyambung rentetan karya seni rupa sebelumnya sebagai dahaga spritualitas agar lebih intim lagi, terhadap dirinya sendiri maupun orang di sekitar.
Baca Juga : Paguyuban Peternak Ayam Kampung Banua Berikan Pelatihan Anak PAUD Terpadu Alam di Rindam VI/Mulawarman
“Story of Syamsi Tabriz, itu judul yang kupilih. Dalam berjalan kita memerlukan penunjuk arah yang pantas. Seorang pembimbing ruhani yang menguasai peta kehidupanruhani, seperti halnya Syamsi Tabriz bagi Rumi,” ucap Hajriansyah kepada republiknews.co.id, Selasa (26/7/2022) malam.
Alumni Prodi Seni Lukis ISI Yogyakarta itu mengajak ke dalam ruangan, terdapat beberapa lukisan di antaranya, yaitu Tree of Life (56 x 42 cm, 2021) yang tertulis bahwa hidup manusia seperti pohon, struktur yang terdiri atas batang, dahan, ranting dan daun.
Secara personal, kata Hajri, seperti tubuh, kepala, tangan dan kaki adalah struktur fisiknya, namun yang menggerakkannya adalah pikiran, lebih-lebih hati, yang tak nampak mata. “Al Ghazali menyebut akal sebagai perdana menteri, hati adalah rajanya,” ujarnya.
Baca Juga : Bangun Kampung Literasi di Banjarbaru, TBM Angkasa Literasi Digital Bina Anak-Anak
Semua anggota tubuh, kata Hajri, adalah tentara atau rakyatnya. Begitu pula dalam tubuh sosial, menurutnya kita bergerak karena ada pengambil kebijakan, penentu kebijakan, dan rakyat yang mengikut aturan dan norma sosia budaya. Lalu, Hajri menunjuk lukisan yang berukuran besar di pojok dinding tengah, dan karya itu berjudul: Di Depan Jendela Terbuka (90x120cm, 2021).
“Dari balik jendela terbuka, kita menyaksikan perubahan datang silih berganti. Kemajuan dan kemunduran hanya bertukar waktu. Nikmatilah apa yang tersaji di depan mata,” ucap Founder Kampung Buku Banjarmasin itu.
Kata Hajri, makna dari lukisan itu menggambarkan situasi masa lalu dan masa sekarang ihwal Rumah Banjar dan hilir mudik di sungai besar yang dilewati tongkang-tongkang. Dulu, kata dia, masyarakat Banjar menikmati hidupnya di sela rumahnya terdapat sungai sungai yang asri.
Baca Juga : Dihina Pakaian Jelek, Pria di Banjarbaru Tikam Teman Hingga Tewas
“Di dalam rumah itu, banyak simbol khas Banjar yang terdapat nilai keislaman,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Hajri memperlihatkan di pojok dinding sebelah terdapat lukisan berukuran 50×40 cm itu berjudul: Pejalan Tua (2021). Mengingat pameran sebelumnya berjudul Suluk, dia pun mengiyakan bahwa sepatu sangat lekat dengan perjalanan spritualnya.
Selain itu, terpajang pula pada dinding Rumah Oettara yaitu Huzen (90x60cm, 2021), Musyawarah Unggas (50×40 cm, 2022), Rumah Besar Tradisi (130 x 110 cm, 2021), Sungai yang Mengering (160 x 80 cm, 2020) dan Uns, (80×60 cm, 2021).
Baca Juga : Mari Berdonasi, Musisi Banjarbaru Galang Dana untuk Korban Gempa Cianjur
“Uns adalah perasaan intim di dalam diri. Saat keheningan menjemput kita, dalam kesendirian kita seperti berhadap-hadapan dengan diri sendiri,” tutur Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin itu.
Founder Rumah Oettara, Novyandi Saputra menjelaskan bahwa lukisan yang digambar oleh anak-anak ini bakal dikenangnya sepanjang waktu, terlebih nanti dipajang terus. Menurutnya, ini bentuk apresiasi berkelanjutan untuk anak muda, serta kanak-kanak hari ini.
“Rencana ingin mengundang anak-anak sekolah di sekitar ini, seperti SD Mawar dan sebagainya. Kali aja menjadi pameran besar anak-anak di sini,” ucap Novyandi.
Baca Juga : Mari Berdonasi, Musisi Banjarbaru Galang Dana untuk Korban Gempa Cianjur
Upaya ini, Novyandi mengingat 3 tahunnya di Yogjakarta dengan menggelar seni rupa di depan publik, yang dianggapnya cukup mudah. Namun kali ini, dia beranggapan bahwa tidak hanya satu titik saja yang menjadi pusat berkebudayaan. “Kita bisa berpameran di mana saja,” ujarnya.
Sebab itulah, Novyandi membuat Rumah Oettara sebagai ruang seni untuk diisi dengan pelbagai pagelaran yang ditampilkan. Sebelumnya, kata dia, tempat ini pernah tampil monolog, musik tradisional, hingga saat ini pameran seni rupa.
“Tujuannya apa? Ekspresi seni itu tidak terkungkung cuma di satu ruang saja, tidak hanya eksklusif. Dia (seni) harus mendekat ke masyarakat, dan pameran tunggal inilah hadir ke ruang publik,” kata pencetus NSA Project Movement itu.
Baca Juga : Mari Berdonasi, Musisi Banjarbaru Galang Dana untuk Korban Gempa Cianjur
Saat pembukaan, kegiatan itu turut dimeriahkan oleh 15 anak-anak dari TK PLN Banjarbaru, yang dibingkai dalam rangka Hari Anak Nasional dengan tema: Ceria Dalam Warna, Melukis Bahagia Bersama Anak-Anak. Dan pameran ini bakal digelar satu bulan penuh, sejak 23 Juli hingga 23 Agustus mendatang.
