0%
logo header
Rabu, 15 Juni 2022 11:16

Mengenal Sosok Tahir, Pembaca Puisi Wakili STIKIP PGRI Banjarmasin di Porsenasma IV Kediri

Ahmad Tahir, saat mempraktekkan pembacaan puisi. (Istimewa)
Ahmad Tahir, saat mempraktekkan pembacaan puisi. (Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, BANJARMASIN — Ahmad Tahir, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Banjarmasin itu tengah menjalani cabang lomba baca puisi di Pekan Olah Raga dan Seni Nasional Mahasiswa (PORSENASMA) IV Perguruan Tinggi PGRI di Gedung IKCC, Kota Kediri, Jawa Timur. Sebagai perwakilan kampus, dia telah menyiapkan diri untuk mengasah kemampuan dalam pembacaan puisi.

“Satu setengah bulan saya belajar dan mengasah diri bersama mentor atau pelatih baca puisi yang difasilitasi oleh kampus,” ucap Ahmad Tahir kepada Republiknews.co.id, Rabu (15/06/2022).

Dan awal mula diikutsertakan lomba, Tahir dilirik oleh salah satu dosen PBSI untuk direkomendasikan sebagai perwakilan STKIP PGRI Banjarmasin. Kata dia, dosennya menyukai gaya pembacaan puisi yang dibawakan olehnya saat tampil di Makrab Himpunan.

Baca Juga : Cerita Komunitas Kelopak Baca di Taman Kamboja Banjarmasin, Dua Anak Asyik Baca Buku

“Kemarin saya ikut serta meramaikan Makrab Himpunan dengan mengisi pembacaan puisi, salah satu dosen berpartisipasi dan melihat penampilan saya. Lalu besoknya, saya diikutkan seleksi dan lolos,” kata pria kelahiran 2002 itu.

Kata Tahir, kurang lebih ada 38 kampus dari berbagai daerah di Indonesia yang bakal bersaing di Kediri. Hal itu, kata dia, semua mahasiswa terbaik dari perwakilan kampusnya masing-masing demi mengharumkan daerahnya sendiri.

“Insya Allah, sudah siap secara mental dan fisik untuk bersaing di panggung nanti,” ujarnya.

Baca Juga : Buku Play Armada Terbit, Cerita Bocah 11 Tahun Miliki Novel Perdananya

Dalam kesempatan itu, Tahir memilih dua karya sastrawan besar di Indonesia yakni Chairil Anwar yang berjudul: Membaca Tanda-Tanda. Karya kedua, dia memilih karya milik sastrawan Sapardi Djoko Damono berjudul: Di Pemakaman.

“Dua puisi yang cukup familiar, jadi tanpa mau mengambil risiko. Memilih puisi yang sebelumnya pernah saya baca,” ungkap Alumni SMA Negeri 1 Candi Laras Selatan itu.

Setelah melewati proses lomba. Tahir mengaku, kompetisinya sangat ketat di atas panggung bersama puluhan peserta dari pelbagai daerah yang sudah berpengalaman. Rata-rata, kata dia, penampilan mereka sangat keren layaknya pembaca puisi yang handal dari panggung ke panggung.

Baca Juga : Sembunyikan Inex Didalam Mulut, Selebgram asal Banjarmasin Ditangkap Polisi

“Ketat banget, karena mereka berpengalaman semua. Tentu, penampilannya sudah keren. Saya merasa kurang di bagian indikator penjiwaannya saat tampil, mereka lebih kuat menguasai itu.”

Sementara, peraih medali emas, perak dan perunggu dimenangkan oleh beberapa kampus PGRI di wilayah Sumenep (Emas), Kediri (Emas), Pacitan (Perak), Palembang (Perak), Yogyakarta (Perunggu) dan Ponorogo (Perunggu).

Dalam ajang ini, Tahir bersyukur menjadikan sebuah pengalaman yang berharga dalam hidupnya, terlebih membawa nama harum Banua. “Maaf sekali, saya belum maksimal dalam pembacaan puisi. Sepulang ini, saya akan menuliskan perjalanan, serta pengalaman dalam dunia sastra.”

Baca Juga : Wetland Square Cetak Buku Antologi Bersama, Hajriansyah Beri Catatan Peserta Literasi Festival

Kemampuan Ahmad Tahir (20) diakui oleh Syarif Hidayatullah, Ketua Komunitas Perahu Kata asal Kabupaten Batola itu juga pernah menjadi mentor dalam dunia sastranya. Kala itu, kata dia, sosok Tahir dalam kegiatan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2018 lalu, nampak berbeda dengan sekarang.

Syarif bilang, Tahir adalah siswa yang pemalu dalam berinteraksi apalagi saat di atas panggung. Namun, kata dia, berangsur dirinya berubah saat Tahir memberanikan untuk naik panggung pasca parade baca puisi di hari perpisahaan GSMS.

“Awalnya, orangnya pemalu dan tidak percaya diri, lalu hingga akhirnya ketika perjalanan perpuisiannya terus bergulir. Menjadikan sosok yang awalnya tidak mungkin, maka kini menjadi sebuah hal yang sangat mungkin,” ucapnya.

Baca Juga : Wetland Square Cetak Buku Antologi Bersama, Hajriansyah Beri Catatan Peserta Literasi Festival

Dulu awalnya, Syarif melihat Tahir terkesan nampak tidak tertarik dengan kegiatan sastra yang digelar oleh GSMS. Menurutnya, kemampuannya itu ada di pita suaranya yang khas, sehingga memiliki ciri tersendiri yang harus diasahnya terus menerus.

“Orangnya itu awalnya tidak terlalu tertarik kulihat di GSMS, namun aku mendengar suaranya memiliki potensi daripada yang lain,” kata penyair asal Marabahan itu.

Disitulah, kata Syarif, pembacaan puisinya terus diasah dari hari ke hari yang menjadikan sosoknya berkembang. Penulis buku Hijrah Ke Rantau itu berpesan kepada Tahir bahwa proses dalam mengenal perpuisian bahkan karya sastra lainnya, jangan sampai terhenti di event lomba itu saja tetapi menjalani lebih jauh lagi dalam menapaki dunia kesusastraan di luar sana.

Baca Juga : Wetland Square Cetak Buku Antologi Bersama, Hajriansyah Beri Catatan Peserta Literasi Festival

“Jangan berhenti di sini, perjalanan masih panjang. Semoga ke depannya semakin terasah, dan selalu mengikuti lomba-lomba,” pesannya.

Penulis : Rahim Arza
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646