0%
logo header
Rabu, 29 Juni 2022 01:11

Merintis Yayasan Rumah Qur’an Banjarmasin, Sekelumit Cerita Ustadz Mustaqim dan Pengajar Ngaji

Anak-anak Qur'ani dan pengajar lainnya di Rumah Qur'an At-Taisir, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (Foto: Rahim Arza/Republiknews.co.id)
Anak-anak Qur'ani dan pengajar lainnya di Rumah Qur'an At-Taisir, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (Foto: Rahim Arza/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, BANJARMASIN — Mula cerita Ustadz Mustaqim merintis Yayasan Rumah Qur’an At-Taisir sejak 2015 lalu, tepatnya saat sepulang dari selesainya kuliah S1 di Ma’had Aly An-Nuaimy Jakarta. Pulang ke Banua, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dia memiliki cita-cita ingin membuka Rumah Qur’an dan mengawali niat itu di rumah orangtuanya sendiri.

“Punya cita-cita sebelumnya ingin memiliki Rumah Qur’an ini. Saat itu, paling awal membuka di rumah orangtua di Jalan Veteran,” ucap Ustadz Mustaqim Akmal kepada Republiknews.co.id, Selasa (28/6/2022).

Mustaqim bercerita, awalnya para anak-anak yang belajar berjumlah 12 orang santri. Waktu itu, dia hanya mengajar seorang diri yang dilakoninya sebagai guru ngaji. Namun berselang beberapa bulan kemudian, murid bertambah semakin banyak.

Baca Juga : Cerita Komunitas Kelopak Baca di Taman Kamboja Banjarmasin, Dua Anak Asyik Baca Buku

“Sehingga kami merekrut guru, sampai akhirnya rumah itu penuh. Sesak, tidak muat lagi,” ungkap Mustaqim.

Mustaqim kaget, antusiasme anak-anak belajar ngaji semakin banyak. Perlahan memadati rumah, hingga akhirnya berpindah ke Mesjid An-Nur, Gang Merpati, Banjarmasin Timur.

“2017 lalu, berhubung saya pribadi mengambil rumah bersubsidi (KPR) di Sungai Andai. Pada bulan Januari, tempat inilah kami rintis Rumah Qur’an At-Taisir cabang kedua,” kisahnya.

Baca Juga : Buku Play Armada Terbit, Cerita Bocah 11 Tahun Miliki Novel Perdananya

Berselang kemudian, kata Mustaqim, Rumah Qur’an itu penuh barokah yang diisi beberapa santri anak-anak. Tahun demi tahun, para peserta didik semakin membludak dan akhirnya, kata dia, bersama warga menginisiasi bangunan ala kadarnya, tepat mengambil tanah disampingnya tersebut.

Berkat bantuan beberapa donator, Mustaqim akhirnya bisa membangun Rumah Qur’an At-Taisir secara utuh. Kini, bangunan warna biru itu ditempati oleh anak-anak Qur’ani yang tengah semangat belajar. Plus, kata dia, tempat itu menjadi ruang warga dalam kajian rutin tiap hari Senin.

“Maulid rutinan, dan kajian tahsin khusus orang dewasa,” tuturnya.

Baca Juga : Sembunyikan Inex Didalam Mulut, Selebgram asal Banjarmasin Ditangkap Polisi

Mustaqim bersyukur, kehadiran para guru, masyarakat dan donator menjadi kekuatan dalam membangun Rumah Qur’an At-Taisir ini. Dia berharap, anak-anak Qur’ani ini dapat mengasah lebih jauh lagi dalam bacaan tajwidnya, serta memperbagus hafalannya. “Moga, menjadi penghafal Al-Quran yang baik. Sampai 30 juz, Aamiinn..”

Wella Ranggani, ustadzah asal Kapuas itu turut menjadi guru ngaji sejak 2018 lalu. Dia menyampaikan bahwa santri/wati yang mengikuti pembelajaran jumlahnya belum sebanyak sekarang. Saat ini, kata dia, anak-anak sangat antusias mengikuti pembelajaran ngaji Al-Qur’an.

“Waktu itu, ada hal lain yang membuat saya vakum. Kini kembali lagi, melihat antusiasme mereka belajar ngaji,” ujarnya.

Baca Juga : Wetland Square Cetak Buku Antologi Bersama, Hajriansyah Beri Catatan Peserta Literasi Festival

Di awal Juni 2021, Wella kembali bergabung untuk mengajar dan melihat santri/wati yang antusias belajar dan menghafal Al-Qur’an, sehingga semakin banyak dan diikuti jumlah pengajar juga yang semakin bertambah. Bahkan, kata dia, semakin hari semakin banyak santri/wati yang terus berdatangan ingin mendaftar, hingga saat ini berjumlah 250 orang untuk cabang Sungai Andai.

“Jikalau awalnya pembelajaran hanya dilaksanakan pada satu sesi saja, tetapi sekarang pembelajaran telah dibagi menjadi 3 sesi belajar. Siang, sore dan malam,” ucap mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir, UIN Antasari itu.

Wella bilang, menghandle sedikit anak-anak tentu berbeda dengan menghandle pembelajaran dengan banyak santri/wati saat ini. Sebagai pengajar, kata dia, kita perlu memiliki strategi belajar dan tentu berbeda pengajaran.

Baca Juga : Wetland Square Cetak Buku Antologi Bersama, Hajriansyah Beri Catatan Peserta Literasi Festival

“Setiap kelompok berbeda juga strategi belajarnya, karena harus menyesuaikan kondisi dan keadaan kelompok,” ujarnya.

Namun, menurut Wella, karena dalam pembelajaran mereka menerapkan sebuah metode belajar Al-Qur’an yang bernama Metode Ummi. Jadi, kata dia, untuk sistem pembelajaran harus tetap mengikuti standar sistemnya metode ummi.

“Di antaranya, seperti manajemen waktu dimulai dengan pembukaan, muroja’ah (mengulang hafalan/pembelajaran yang telah lewat), menambah pembelajaran atau hafalan baru, mengulangi kembali hafalan lalu penutup.”

Baca Juga : Wetland Square Cetak Buku Antologi Bersama, Hajriansyah Beri Catatan Peserta Literasi Festival

Sebagai pengajar, Wella menyampaikan bahwa pihaknya tentu turut mendoakan agar santri/wati yang kelak lulus dari Rumah Qur’an At-Taisir. Kata dia, tetap selalu istiqomah bersama Al-Qur’an dan mengamalkan ilmu yang dipelajarinya di mana pun berada.

“Menjadi pribadi muslim/ah bermanfaat bagi sekitarnya minimal di dalam keluarganya sendiri,” tandasnya.

Penulis : Rahim Arza
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646