REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Kinerja industri perbankan khusunya pada penyaluran kredit nasional ikut ditopang pada tiga sektor usaha. Masing-masing, sektor konstruksi, rumah tangga dan industri pengolahan.
“Kami mencatat kinerja intermediasi perbankan domestik tetap resilien dan tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga di tengah gejolak perekonomian global yang mendorong lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar,” terang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, dalam keterangannya, kemarin.
Ia menjelaskan, Maret 2026, kredit tumbuh sebesar 9,49 persen year on year (yoy) menjadi sebesar Rp8.659,05 triliun. Capaian ini meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen. Pertumbuhan kredit tahunan tersebut dikontribusikan oleh Bank Umum Milik Negara (BUMN), Bank Umum Swasta Nasional dan Asing serta Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN).
Baca Juga : Turun Langsung Lakukan Pengawasan APBD, Edward Horas Pastikan Data Sesuai Kondisi Riil
Sementara, pertumbuhan kredit berasal dari pertumbuhan tiga sektor ekonomi. Antara lain, usaha Konstruksi Rp181,98 triliun atau 46,67 persen, diikuti sektor Rumah Tangga Rp103,83 triliun atau 5,56 persen, dan Industri Pengolahan Rp97,62 triliun sebesar 7,96 persen.
Selanjutnya, berdasarkan jenis penggunaan Kredit Investasi (KI) yoy dapat tumbuh sebesar 20,85 persen, diikuti dengan pertumbuhan Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar 4,38 persen dan Kredit Konsumsi (KK) sebesar 5,88 persen.
“Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, Kredit Korporasi dan Kredit UMKM yoy masing-masing dapat tumbuh sebesar 14,88 persen dan 0,12 persen,” jelasnya.
Selain itu, kualitas kredit terjaga dengan rasio Loan at Risk (LAR), Non Performing Loan (NPL) Gross, dan NPL Net masing-masing sebesar 8,94 persen, 2,14 persen, dan 0,83 persen, membaik dibandingkan Februari 2026 (9,24 persen, 2,17 persen, dan 0,83 persen).
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) yoy dapat tumbuh sebesar 13,55 persen yoy menjadi sebesar Rp10.230,81 triliun, meningkat dibandingkan Februari 2026 sebesar 13,18 persen, dengan pertumbuhan giro sebesar 21,37 persen secara tahunan, kemudian deposito yang tumbuh 8,36 persen yoy, tabungan 11,57 persen.
Sejalan dengan hal tersebut LDR perbankan pada Maret 2026 sebesar 84,64 persen sedikit menurun dibandingkan Februari 2026 sebesar 84,72 persen. Rasio LDR tersebut menandakan bahwa perbankan memiliki ruang likuiditas yang cukup untuk penyaluran kredit ke depannya.
Baca Juga : Dikunjungi Taruna Ikrar, CryoCord Tertarik Investasi dan Kolaborasi Teknologi Sel di Indonesia
“Hal ini secara umum menunjukkan bahwa peningkatan volatilitas di pasar global tetap menjadi perhatian, namun industri perbankan di Indonesia memiliki tingkat permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai untuk menyerap potensi tekanan di masa yang akan datang,” kata Dian.
